Fatwa Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs, Kedudukan Kedua Orang Tua Rasulullah

Bagaimana Kedudukan Kedua Orang Tua Rasulullah di SisiNYA ? (Resume Fatwa Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs, Mufti Agung Mesir)

November 7, 2013 at 9:40am

 

PublicFriendsOnly MeCustomClose FriendsSMA NEGERI 4 SIDOARJOSee all lists…Familycv.bismarayaUniversitas Airlangga SurabayaRusma WidyaJangan dilihatKhodimul Ummah wal UlamaSMP Negeri 1 SidoarjoAirlangga UniversityUniversitas Alam Semesta RayaSidoarjo, Jawa Timur, Indonesia AreaUniversitas Menyan IndonesiaAcquaintancesGo Back

Bagaimana Kedudukan Kedua Orang Tua Rasulullah SAW 

*Resume tulisan Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs (semoga Allah menyucikan ruhani beliau), Mufti Agung Mesir Aswaja dalam kitabnya Manhajuhum . . . Ahamm Qadhayahum yang saya ambil dari terjemahannya

 

Oleh : Ahmad Al-Muznib

 

Resume ini ditulis dalam rangka untuk meningkatkan cinta kepada Rasulullah SAW, mengetahui dan mengenal keluarga beliau khususnya keduaorang tua beliau karena akhir-akhir ini terdapat Isu-isu menyatakan ada sebagian kecil kelompok minoritas / kelompok puritan menyebutkan kedudukkankedua orang tua Rasulullah adalah di neraka jahannam karena dianggap belum mengucapkan 2 kalimah syahadat. Semoga Allah memaafkan yang beranggapan demikian.

 

Maka butuh ilmu untuk memahami bagaimana kedudukkan kedua orang tua Rasulullah di sisiNYA melalui AlQur’an dan Hadits. Tentunya bagi kaumyang awam seperti yang menulis resume ini memahami AlQur’an dan Hadits secaralangsung tentu tidak mampu, karena Allah dalam AlQur’an menyebutkan kewajiban bertanya kepada Ahlu Dzikir. Ahlu Dzikir adalah para Alim Ulama. Maka untuk menjawab Isu kedudukkan kedua orang tua Rasulullah, kami mengambil fatwa Mufti Agung Mesir ProfessorDR Syaikh Ali Jum’ah Qs yang menjawab isu kedua orang tua Nabi SAW ada di neraka.

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs mengatakan perasaan cinta yg berlawanan dengan hasrat mengatakan kedua orang tua Nabi berada di nerakaadalah jelas menyakiti baginda Rasulullah SAW. Kemudian Professor DR Syaikh AliJum’ah menjelaskan dalil-dalil larangan menyakiti Nabi

 

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُلَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًامُهِينًا

 

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginyasiksa yang menghinakan. QS (Al-Azhab 57)

 

Allah pun melarang menyakiti Nabi secara terang-terangan danmeniru kaum yahudi yang menghina Nabi

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُواكَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا ۚ وَكَانَ عِنْدَاللَّهِ وَجِيهًا

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadiseperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya darituduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyaikedudukan terhormat di sisi Allah. QS (AlAzhab 69)

 

Menurut Professor Syaikh DR Ali Jum’ah Qs :  meskipun orang tua Nabi dan nenek moyang Rasulullah SAW terlihat berbuat musyrik secara sepintas, maka mereka tidak bisa digolongkan sebagai ahlu musyrikin sebab dijaman orang tua Nabi SAW tidak ada Rasul yang diutus dijamanitu.

 

Professor Syaikh DR Ali Jum’ah Qs menjelaskan dalil-dalilbahwa kedua orang tua Rasulullah SAW bukan ahli musyrik.

 

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَرَسُولًا

dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorangrasul (QS Al-Isra 15)

 

ذَٰلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَالْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklahmembinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah.(Qs Al-An’am 131)

 

 

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّايَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُعَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembiradan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantahAllah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa 165)

 

Hujjah Allah tidak memberikan azab sebelum adanya Rasul yang diutus adalah berlaku dijaman kedua orang tua Rasulullah SAW. Tanpa utusan Rasul, Allah takkan menyiksa manusia. Maka ayat-ayat diatas sudah menguatkanbahwa kedua orang tua Rasulullah SAW adalah tidak diazab oleh Allah.

 

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰيَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّامُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

 

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecualipenduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (QS AlQashah 59)

 

Orang tua Nabi Muhammad SAW tidak diazab bukan dikarenakan orang tua Nabi Muhammad  SAW melainkankarena kedua orang tua Nabi berada dalam jaman jeda tidak diutusnya seorang Rasul satupun. Al-Imam Asy-Syathibi mengatakan dalam AlMuwafaqat juz 3 halaman377 ketentuan Allah terhadap hambaNYA adalah tidak menyiksa atau menghukumsebelum diutusnya Rasul, Jika aturan telah tegak dan diasosiasikan, maka orangbebas memilih, beriman atau kafir. Masing-masing akan memperoleh balasan yangsesuai. AlQasimi ketika menafsirkan ayat dan Kami tidak akan mengazabsebelum Kami mengutus seorang rasul (QS Al-Isra 15)

 

Yang benar bagi kami, yang lurus bagi kami bahkan mustahil dalamsunnah kami yang terbangun atas dasar kebijaksanaan tertinggi, untuk menyiksa suatu kaum, hingga kami mengutus pada mereka seorang Rasul yang menuntun mereka menujukebenaran dan mencegah mereka dari kesesatan, demi menegakkan hujjah dan mengutus kemungkinan diajukannya alasan (untuk menghindari dari sanksi)

 

Kemudian bagaimana dengan dalil dalil khusus. Professor DRSyaikh Ali Jum’ah Qs memberikan dalil-dalil khusus :

 

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antaraorang-orang yang sujud.

(QS AlSyuara 219)

 

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah QS menyatakan dalam tafsir Al-Qurthubijuz 13 halaman 144 dan Ath-Thabrani juz 7 halaman 287 menurut Ibnu Abbas ramaksud dari firman “melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orangyang sujud” adalah perpindahan beliau terus menerus dari sulbi ke sulbi mulaiNabi Adam As, Nabi Ibrahim As dan hingga terakhir menjadi beliau

 

Watsilah bin Asyqo berkata, aku mendengar Rasulullahbersabda : “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail danAllah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dariQuraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim” (HR. Muslim dan At-Tirmidhi)

 

“SesungguhnyaAllah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan sebaik-baik golonganmereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalumenjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluargaIalu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalahsebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka”.(Diriwayatkan oleh at-Turmudzy).

 

Demikianlah Rasulullah SAW menyifati nenek moyangnya lagisuci dan dari kalangan orang baik. 2 sifat yang berlawanan seperti yangdituduhkan kaum puritan, kaum minoritas dalam Islam. Musyrik seperti yangdinyatakan pada AlQur’an adalah

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَاالْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yangmusyrik itu najis (Qs At-Taubah 18)

 

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs kemudian menjelaskankelompok minoritas mempermasalahkan 2 hadits yang nilainya ahad yg kemudiakelompok minoritas ini berlawanan pendapatnya dengan jumhur Ulama dalam halkedudukkan kedua orang tua Rasulullah SAW. Professor DR Syaikh Ali Jum’ah QSjuga menjelaskan lafal hadist ahad itu bertentangan dengan ayat-ayat Qur’anyang tegas.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَاسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِيوَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَفَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Dari Abu Hurairahradliyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam pernahberziarah ke kubur ibunya kemudian beliau menangis, sehingga menangislah paraSahabat lain di sekeliling beliau. Kemudian beliau bersabda: Aku meminta ijinkepada Tuhanku untuk memohon ampunan untuknya (ibunda Nabi) tapi tidakdiijinkan. Kemudian aku meminta ijin (kepada Allah) untuk berziarah kekuburnya, diijinkan. Maka berziarahlah ke kubur, karena hal itu mengingatkankepada kematian (H.R Muslim no1622)


عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِيالنَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

” dari Anas bin Malik bahwasanya seorang laki-laki berkata :Wahai Rasulullah di mana ayahku ? Nabi bersabda : ‘ di neraka’ . Ketika orangtersebut berpaling, Nabi memanggilnya lagi dan bersabda : ‘Sesungguhnya ayahkudan ayahmu di an-naar (neraka) (H.R Muslim).

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs kemudian menjelaskan keduahadits ini. Hadits pertama tidak menyatakan dengan tegas ibunda Rasulullah SAWadalah didalam neraka, sedangkan tidak diberikan ijin untuk memintakan ampunanjuga tidak menunjukkan ibunda Nabi Muhammad SAW adalah musyrik. Jika tidak makabeliau juga tidak akan mendapatkan ijin dari Allah untuk menziarahi kuburnyakarena berziarah ke makam orang-orang musyrik dan berbakti pada mereka adalahdilarang.

 

Kemudian hadist kedua bisa diartikan bahwa yang dimaksudRasulullah SAW adalah pamannya, Abu Thalib yang meninggal setelah Muhammad binAbdullah diutus menjadi Rasulullah SAW dan tidak pernah menyatakankeislamannya. Orang arab punya kebiasaan menyebut paman dengan ayah.

 

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs menjelaskan ketika kawanbicara tidak mau menerima takwil ini dan tetap pada pendirian makna lahir tekshadits kedua, karena makna lahir hadirs pertama tidak mendukung, Professor DRSyaikh Ali Jum’ah Qs mengatakan kedua hadits itu menunjukkan kedua orang tuaRasullah SAW tidak selamat dan Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs dengan tegasmenolaknya karena bertentangan dengan ayat-ayat secara pasti dan jelasmenunjukkan sebaliknya. Inilah sikap para imam dan ulama dari masa ke masa. Al-HafidzAlBaghdadi Ra pernah menyebutkan kaidah ini dengan mengatakan “ Orangterpercaya yang meriwayatkan sebuah sanad bersambung bisa ditolak karenabeberapa hal, bertentangan dengan Al-Qur’an atau hadist mutawatir, sehinggadiketahui bahwa hadits yang tidak memiliki dasar atau mansukh.

 

Kesaksian Tim Sarkub di KPI, Membungkam Jurnalis Abal-abal Wahabi

 


 

Usai pertemuan mediasi antara Pihak Aswaja, KPI, MUI, dan Trans 7, media Wahabi ramai-ramai bikin berita versi mereka sendiri. Tujuannya cuma untuk menghibur diri mereka sendiri. Padahal datang ke lokasi pun tidak tapi media Wahabi sudah sesumbar bikin berita seenak perutnya sendiri.

 

Tulisan dibawah ini ditulis berdasarkan kisah nyata dan kesaksian salah seorang Jurnalis Tim Sarkub yang datang langsung mengikuti jalannya sidang di gedung KPI.

 

Saya tiba di lokasi sekitar pukul 14.45 dan langsung bertemu dengan Kiyai Ibnu Mas’ud, sesepuh Tim Sarkub, di depan pintu gerbang. Beliau saat itu berdiri bersama seorang laki laki muda bergamis putih dengan imamah di kepala, belakangan saya baru tahu kalau beliau adalah Habib Fachry Jamalullail dari FPI. Setelah memarkir motor, saya dan sohib karib saya, Irfan Murdianto segera naik ke lantai 6 gedung Bapeten tempat dialog antara tim redaksi Trans 7 dan pihak Aswaja yang melayangkan aduan kepada KPI. Sesampainya diatas ternyata telah hadir terlebih dahulu Ketua Umum Tim Sarkub KH. Thobary Syadzily al-Bantani, Koordinator Densus 99 Sarkub Habib Mushthofa bin Mohsen al-Jufri dan beberapa kawan sarkuber lainnya. Kepada kami KH. Thobary mewanti wanti agar tetap menjaga adab dan sopan santun selama berada di gedung tersebut.


Hanya selang sepuluh menit kemudian pertemuanpun dimulai, dan ternyata dari pihak Sarkub hanya lima orang saja yang boleh masuk ke ruangan pertemuan. Yang masuk pertamanya hanyalah KH. Thobary dan Kyai Ibnu Mas’ud, sedang saya tetap berada diluar. Saya sempat bergumam dalam hati: “yahhhh… Gak bisa masuk ngelihat debat para ulama lagi…., ah nggak apa apa deh… yang penting bisa kopdar ama kawan kawan…”. Namun tak sampai lima menit kemudian Kyai Ibnu Mas’ud keluar memanggil saya dan seorang kawan yang memegang kamera digital untuk masuk. Memang beberapa jam sebelumnya saat akan berangkat ke gedung KPI tersebut beliau sudah mengamanahkan saya untuk membawa kamera. Namun karena saya tak memiliki kamera dan waktunya sangat mepet untuk mencari pinjaman handycam maka saya putuskan untuk merekam moment pertemuan ini hanya dengan aplikasi kamera dari tablet yang saya miliki.

 

Saya kemudian memasuki ruangan pertemuan yang tidak seberapa besar dengan sebuah meja melingkar di tengahnya. Di dalam telah hadir KH. Thobary, Habib Fachry Jamalulail, Habib Mushthofa mohsen al-Jufry dan Kiyai Ibnu Mas’ud. Disebelah kanan duduk Kiyai Anshori dahlan dan Kiyai Misbachul Munir dari Lembaga dakwah PBNU. Di depan saya persis duduklah para komisioner KPI yang berjumlah 4 orang. Sedangkan di sebelah kiri saya adalah tim redaksi Khazanah Trans 7 yang berjumlah 3 orang dan ustadz Haikal sebagai narasumber mereka. Sisanya adalah para crew Trans 7 yang ikut mengabadikan moment ini dengan kamera mereka yang tentunya jauh lebih canggih dari alat yang saya pakai serta beberapa orang lainnya. Begitu saya duduk tepat dibelakang KH. Thobary mata saya langsung tertuju kepada seraut wajah yang dua hari belakangan sangat familier bagi para facebooker Aswaja. Pemilik wajah yang entah kenapa selalu seperti sedang cemberut itu adalah Pracoyo Wiryoutomo, Wapimred Trans 7 yang di akun personal Facebooknya mengatakan bahwa orang orang yang menentang dakwah tauhid yang disiarkan melalui program Khazanah adalah orang orang yang sejenis dengan Abu Jahal dan Abu Lahab. Saya langsung menyalakan aplikasi kamera pada tablet saya dan lalu mulai merekam momen ini, beberapa kali saya zoom wajah Pak Pracoyo ini untuk memastikan memang dialah yang dua hari belakangan jadi trending topic di kalangan facebooker aswaja.

 

Pertemuanpun kemudian dimulai, seorang komisioner KPI menyampaikan kata sambutan tentang apa tujuan diadakannya dialog ini. Kemudian dia mempersilahkan pihak yang menyampaikan pengaduan untuk untuk berbicara. Yang pertama mendapat kesempatan berbicara adalah KH. Thobary dari tim Sarkub untuk menyampaikam keberatannya berkenaan dengam program Khazanah. KH. Thobary yang juga menjabat sebagai Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Provinsi Banten, menyampaikan keberatannya dengan alur yang teratur dan nada bicara yang kalem namun tegas. Disetiap kata yang beliau ajukan pada tim Khazanah selalu beliau awali dengan kata “maaf” sebagai bentuk penghormatan pada lawan debatnya. Beliau mengatakan bahwa Khazanah sebaiknya jangan membahas hal hal yang bersifat furu’iyah, karena jika membahas furu’iyah maka sampai kiamat sekalipun tidak akan ada habisnya. Kemudian beliau masuk ke pokok permasalahan yang menjadi keberatannya para aswaja terhadap konten program Khazanah, yaitu mengenai masalah Tawasul yang dikatakan di program tersebut sebagai sebuah bentuk kesyirikan. Beliau memaparkan kesalahan Khazanah yang menggambarkan tawasul dan ziarah kubur dengan menampilkan orang yang menyembah pohon dan kuburan. Beliau mengajak tim khazanah agar jangan sembarangan saja mengutip dalil tanpa tahu dan mengkaji sumber sumber aslinya. Beliau kemudian menjelaskan kaidah kaidah ilmu hadits, menjelaskan metodologi tafsir dan lain sebagainya. Lalu beliau katakan bahwa amalan-amalan kami juga berdasarkan dalil dalil yang kuat dan shohih dan ada di dalam kitab kitab ulama klasik. Sebab bagi aswaja sumber hukum itu ada empat, yaitu Al-Qur’an, Sunnah, Ijma, dan Qiyas. Tak semua permasalahan di dalam hidup ini mesti ada detil dalilnya di dalam Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah sumber hukum yang sifatnya pure science. Beliau katakan juga bahwa akan teramat panjang jika harus membahas metodologi tafsir secara detil, membahas balaghoh misalnya… “Saya yakin kalau saya bahas balaghoh nggak akan ada yang faham disini, tapi saya nggak maulah pamer ilmu…..”, ujar beliau kepada tim Khazanah. Terakhir beliau mengeluarkan setumpuk kitab klasik milik beliau sebagai rujukan seperti Fathul bari dan lainnya kepada tim Trans 7.

 

Pembicara selanjutnya adalah Habib Fachry Jamalulail dari FPI. Berbeda dengan Kiyai Thobary yang berkata dengan lembut, Habib Fachry berkata dengan tegas, penuh semangat dan terkesan galak. Beliau langsung tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa Tim Khazanah Trans 7 telah menuduh kaum aswaja yang notabene mayoritas di negeri ini sebagai pelaku Syirik karena bertawasul, merayakan Maulid dan melakukan ziarah kubur. Beliau lalu melanjutkannya dengan menjelaskan bahwa di dalam permasalahan agama Islam itu ada yang namanya Ushuludin alias masalah pokok agama dan ada yang namanya masalah Furu’udin atau cabang cabang agama. “Dalam masalah furu’iyah kita boleh berbeda, bahkan perbedaan itu adalah sebuah rahmat. Namun dalam permasalahan Ushuludin seluruh orang Islam harus sepakat, “muafiq”, sama… Tidak boleh ada perbedaan….! Masalah aqidah semua harus sama!” Tegas beliau. Beliau lalu mengatakan bahwa justru dengan adanya perbedaan maka kita harusnya ilmunya semakin bertambah, yang nggak biasa tawasul lalu melihat saudaranya bertawasul maka harusnya berkata “oh masih ada amalan yang tidak kami ketahui.., bukannya malah menyalahkan kami…”. Lalu beliau melanjutkan: “Sebagai contoh, kalau kita sholat berjamaah di mesjid itu kita akan temukan masing masing orang takbir ama tahiyatnya macem macem, ada yang tahiyatnya goyang goyang, ada yang tahiyatnya bulet bulet (*beliau mencontohkannya dengan jarinya), kami Aswaja tahiyat kami lempeng!” katanya dalam logat Betawi yang kental. “Lalu apakah setelah sholat kami lalu menyalahkan mereka yang tahiyatnya beda dengan kami…? Lu beda, Lu salah…, Lu syirik, Lu murtad.., Lu kafir…! Kan nggak….” lanjut beliau. Lantas beliau menjelaskan perihal tawasul, melalui segi etimologi bahasa arab dan melengkapinya dengan sebuah riwayat tentang Khalid bin walid r.a yang pernah bertawasul dan bertabaruk dengan 3 helai rambut Rasulullah dalam sebuah peperangan. Beliau lalu menjelaskan bahwa masih banyak masalah cabang cabang agama yang lainnya dimana kita harus berhati hati dalam menyikapinya seperti ziarah kubur. “Maaf, kalau antum bilang ziarah itu syirik lalu kenapa mesti sholat di mesjid Nabawi di Madinah…? Itu makam Nabi di dalam mesjid…, ngapain masih aja kesana..? “. Lalu beliau menjelaskan sedikit tentang ilmu tafsir dimana harus memperhatikan asbabul wurud maupun asbabun nuzulnya. “Haditsnya sama, Al-Qur’annya sama…. Tapi pemahamannya dimelencengin…, ini yang kami tidak suka…, Khazanah telah memfitnah kami dengan nyata, mengata ngatai kami dengan jelas bahwa kami adalah pelaku musyrik….!”. Terakhir beliau meminta supaya pihak Trans 7 untuk mengklarifikasi pernyataannya di program Khazanah yang memvonis syirik pelaku tawasul. “dan kalian harus meminta maaf kepada seluruh umat Islam di Indonesia, dalam hal ini Aswaja yang mayoritas di negeri ini…! Jika tidak, maka jangan salahkan kami umat Islam kalau ada tindakan…” tegasnya.

 

Disaat mengambil gambar Habib Fachry berbicara inilah saya sempat merekam sesuatu yang cukup menarik di meja tim redaksi Khazanah Trans 7. Posisi saya sebagai juru kamera dadakan cap menyan membuat saya bebas bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya di ruangan itu untuk mengabadikan moment pertemuan tersebut. Saat itu saya berdiri dengan tablet di tangan saya tepat dibelakang meja tim redaksi Khazanah. Mata saya tertegun melihat secarik kertas yang tampaknya adalah print out sebuah notes di Facebook yang sangat familier bagi saya. Kertas berisi notes tersebut tergeletak tepat diatas mejanya Pracoyo. Notes tersebut adalah notes yang baru saja malam sebelumnya saya share di akun Face book saya, yaitu notes dari KH. Agus Sunyoto pengurus PBNU. Tampak jelas foto profil akun Facebook beliau tercetak di kertas itu. Saya langsung menzoom kertas tersebut tepat pada saat Habib Fachry memulai pembicaraannya. Dalam hati saya bergumam: “pastilah tulisan ini yang akan dijadikan counter attack bagi aduan pihak aswaja…, tapi apa yang salah dengan tulisan itu ya…..?” tanya saya dalam hati.

 

Selanjutnya setelah sedikit kata dari salah seorang komisioner KPI yang menjelaskan metode penerimaan dan penindak lanjutan aduan dari masyarakat tampilah KH. Misbachul munir dari Pengurus besar Lembaga Dakwah NU sebagai pembicara selanjutnya. Beliau mengatakan betapa ngerinya tuduhan syirik kepada para pengamal sholawat Badar dan Sholawat nariyah. “Kasihan orang kampung pak…. hari hari sudah biasa baca sholawat Badar dan sholawat Nariyah jadi digolongkan musyrik karena ibadahnya…”. KH. Misbachul lalu melanjutkan bahwa lain kali Trans 7 harus lebih bijak dan hati hati dalam menyampaikan materi tayangannya. Beliau kemudian membacakan sepotong hadits yang menerangkan bahwa hal hal yang masih dalam persengketaan sebaiknya disikapi dengan bijak, tidak usah langsung memvonis syirik karena masih banyak yang perlu ditoleransi.

 

Setelah itu tibalah waktu bagi tim redaksi Khazanah Trans 7 untuk menjawab keluhan dan pengaduan dari para pembicara sebelumnya. Yang mewakili Trans 7 adalah Ibu Titin Rosmasari pemimpin redaksi tim Trans 7. Dia menceritakan bahwa seminggu sebelumnya pihak Trans 7 sudah dikomplain oleh Gus Nusron wahid dari GP Anshor. Wanita berjilbab ungu ini lalu menjelaskan bahwa mereka telah menemui Gus Nusron untuk melakukan pembicaraan dan telah mendapatkan beberapa masukan dari beliau. Dia lalu menerangkan dengan singkat mengenai program Khazanah sekaligus menyebutkan tim penasihatnya di program tersebut yaitu Ustadz Haikal, Ustadz Arifin, dan Ustadz Syarif, namun yang hadir saat itu hanya Ustadz Haikal saja. Bu Titin lalu menerangkan bahwa beberapa hari terakhir ini adalah hari yang cukup berat bagi mereka karena begitu banyak hujatan dan cacian yang ditujukan kepada mereka di media sosial terutama Facebook. Dan menurut dia apa yang beredar di masyarakat luas bahwa Khazanah telah mengatakan tidak boleh melantunkan sholawat badar, sholawat nariyah, tawasul dan ziarah kubur itu adalah tidak benar dan sudah terjadi pemelintiran berita di publik. Hal tersebutpun sudah disampaikannya kepada Gus Nusron Wahid saat mereka bertemu. Setelah berbicara singkat soal hal tersebut dia lalu mempersilahkan Ustadz Haikal sebagai penasehat dari tim ahli program Khazanah untuk menjawab keluhan, keberatan dan aduan dari Kyai Thobary, Habib Fachry, dan Kiyai Misbachul Munir.

 

Lalu Ustadz Haikalpun memulai jawabannya dengan mengatakan hal yang senada dengan Ibu Titin tadi bahwa berita mengenai acara Khazanah telah terjadi pemelintiran. Ustadz yang saat itu memakai baju batik berwarna hijau tersebut mengatakan bahwa mustahil mereka melarang Sholawat, yang ada adalah mereka bahkan menjelaskan keutamaan sholawat. Dia tampak sedikit emosional saat mengatakan: “….. Karena kami adalah pelaku tawasul…, kami adalah pecinta maulid…, karena kami bertahun tahun berguru kepada Al-mukharom Al-Habib Alwi Jamalulail…, karena kami adalah pecinta ahlul bait….!, hal ini membuat kami bertanya tanya kira kira siapa ya yang mengadu domba kita…?”.

 

Sontak saya nyengir dibalik tablet saya karena dalam hati saya berkata: “Kalo Ustadz Haikal sih mungkin memang iya pecinta maulid, tapi itu sosok berjenggot panjang dan tebal di dekatnya yang kemarin mengatakan di akun Facebooknya kami yang menentang dakwah tauhid program Khazanah adalah sejenis dengan Abu Jahal dan Abu Lahab apa iya juga suka Maulidan….? .Tampak oleh saya Pracoyo yang duduk selisih satu bangku darinya menjulurkan tangannya menyerahkan secarik kertas kepada Ustadz Haikal dan kertas tersebut adalah kertas yang berisi print out notes Facebook dari Kiyai Agus Sunyoto yang saya zoom beberapa saat sebelumnya. Lalu ustadz Haikal menjelaskan bahwa saat hari penayangan episode sholawatlah mereka sorenya mencoba menelusuri dari mana datangnya pernyataan yang memelintir konten khazanah tersebut. Mereka lalu menemukan notes dari Kiyai Agus Sunyoto yang mengatakan bahwa khazanah Trans 7 melarang orang melantunkan sholawat. Tambahnya lagi dia bahkan sempat berkomen di notes tersebut namun entah kenapa komennya kemudian dihapus oleh Kiyai Agus sunyoto. Dia lalu membantah notes tersebut dengan panjang lebar serta menjelaskan apa maksud konten dari episode episode Khazanah yang diprotes oleh masyarakat khususnya kalangan aswaja.

 

Ada hal menarik yang terjadi dalam sesi jawaban pihak tim redaksi Khazanah Trans 7 ini. Sesaat sebelum ustadz Haikal menjawab, Habib Fachry Jamalulail dengan tegas bertanya sambil menunjuk ke arah tim redaksi Trans 7: “Sebelum antum menjawab… Ane mau tahu dulu nih…. apa madzhab antum…? Kalo Wahabi bilang Wahabi….! Biar jelas kami berhadapan dengan siapa…”. Pertanyaan beliau ini tentunya tidak dijawab dengan langsung oleh ustadz Haikal, namun bagi saya jelas tampak bahwa pertanyaan Habib Fachry inilah yang membuat dia mengatakan dengan sedikit emosional kalau dia adalah pecinta maulid dan pecinta ahlu bait. Belakangan baru saya tahu bahwa nama guru yang disebutkan olehnya tadi, yaitu Habib Alwi Jamalulail ternyata adalah ayahanda dari Habib Fachry Jamalulail sendiri. Disinilah yang menurut saya membuat hal ini menjadi menarik, karena Trans 7 memajukan seorang Ustadz aswaja untuk menjawab protes dari kalangan aswaja sendiri. Padahal di media-media seperti Arrahmah.Com belakangan mereka sesumbar bahwa mereka punya tim ahli yang bahkan bergelar LC. Entah kemana ustadz ustadz lulusan timur tengahnya itu, yang jelas baik saya maupun Tim Sarkub lainnya yang hadir saat itu sebenarnya berharap ustadz-ustadz wahabilah yang maju membela program yang kental sekali corak wahabinya ini, bukannya seorang ustadz aswaja seperti ustadz Haikal.

 

Setelah itu perwakilan dari MUI menyampaikan pandangannya mengenai acara Khazanah. Dia mengatakan bahwa MUI tidak setuju dengan usulan sebagian masyarakat untuk menghentikan penayangan program Khazanah. Hal ini karena mengingat bahwa tayangan bernuansa agama Islam porsinya sangat sedikit di pertelevisian Indonesia. Namun MUI sepakat dengan pandangan pihak yang menyampaikan keberatan bahwa Khazanah sebaiknya tidak membahas hal hal yang bersifat furu’iyah dan memancing perdebatan serta menimbulkan keresahan dalam masyarakat. MUI mengatakan agar Khazanah bijak dalam menyampaikan materi tayangannya, harus adil dan cover both side serta tidak memihak kepada salah satu aliran apapun di dalam Islam. Perwakilan MUI itu juga mengatakan bahwa masih banyak materi yang bisa dibahas dan disampaikan, misalnya materi yang mengungkap musuh bersama umat Islam saat ini, atau tentang akhlaq, moral dan pesan anti narkoba kepada generasi muda. “Khazanah kan bisa membongkar kesesatan Ahmadiyah, Syiah rafidhoh atau Liberal yang mengesahkan nikah beda agama dan nikah sejenis misalnya….”.

 

Hal ini ditanggapi oleh KH. Thobary: “Jangan lagi nampilin Matahari mengelilingi bumi… Jangaaaan…. Malu kita… Duhhh… Anak SD aja bakalan ngetawain hal itu…”, sontak beberapa orang yang hadir di ruangan itu termasuk saya tertawa mendengar ucapan Kiyai Thobary. Sedangkan tim Khazanah menyetujui bahwa masih banyak materi lain yang bisa dibahas. Perwakilan MUI selanjutnya mengatakan bahwa jikalau terpaksa harus menayangkan permasalahan seputar khilafiyah dan furu’iyah maka Khazanah harus menyertakan narasumber yang berkompeten dari kedua belah fihak, jadi tidak hanya menampilkan narasi dan gambar saja. “Jika mau maka saya rasa para Kiyai dan Habaib yang hadir disini saat ini bisa dimintai nasehat dan bantuannya…” . Kata kata perwakilan MUI ini disambut meriah oleh para hadirin, termasuk Pak Pracoyo yang tampak tertawa renyah saat itu. Namun hal ini menurut saya hanyalah saran saja…., bukan berarti pihak Trans 7 benar benar akan melibatkan para Kiyai kita dalam menggarap materinya. Hal ini terbukti beberapa jam kemudian melalui pernyataan humas mereka yang dilansir oleh situs berita beraliran Wahabi Arrahmah.Com bahwa mereka telah memiliki tim ahli sendiri dan tidak ada rencana akan melibatkan para Kiyai atau Habib dari kalangan aswaja. “Tidak ada itu, kita sudah punya tim ahli sendiri, jumlahnya ada lima orang, diantaranya ustadz Arifin Nugroho,Lc,” ujar Anita Wulandari.

 

Komisioner KPI lalu melanjutkan pandangan mereka tentang bagaimana membuat sebuah program yang baik. Habib Fachry kemudian kembali berbicara menanggapi pernyataan MUI dan komisioner KPI. Beliau mengatakan memang benar konten program bernuansa Islami sangatlah sedikit, namun jangan sampai yang sedikit itu ditumpangi oleh kepentingan kepentingan yang memecah belah umat dengan tudingan tudingan yang keji. Pembicaraan kemudian bergulir ke arah pembahasan betapa dahsyatnya komentar komentar tentang Khazanah seminggu terakhir ini di Facebook. Baik yang pro maupun kontra saling mencaci dan memaki satu sama lain dan pihak redaksi Khazanah merasa sangat tertekan dengan hal itu. Hal ini langsung mendapatkan tanggapan dari Habib Fachry Jamalulail yang lagi lagi berkata dengan sangat tegas dan bersemangat. “Kalo mau bicara Facebook asal antum tahu aja…., kami dibilang antek Yahudi oleh pendukung Khazanah karena dituduh melakukan praktek perdukunan…, nyembah kubur dan lain sebagainya…, apa antum pikir kami nggak sakit hati…?”. Saat Habib Fachry menyebut kata “antek Yahudi” sontak beberapa orang yang hadir termasuk Ustadz Haikal mengucapkan istighfar karena kaget. Habib Fachry kemudian melanjutkan kata katanya: “Di mata kami Khazanah sudah cacat…, jadi tolong beresin apa yang udah antum buat, buktikan bahwa antum nggak seperti yang orang orang bilang…, caranya adalah dengan mengcounter dan membantah apa yang telah antum katakan sendiri.., jadi kalo kemarin antum bilang tawasul itu syirik maka sekarang antum harus bikin episode khusus yang membahas Perayaan Maulid, Tawasul, Sholawat dan Ziarah kubur…, kami ingin kepastian kapan tanggal penayangannya supaya bisa kami sampaikan kepada para Jamaah…”. Hal senada juga disampaikan oleh Kiyai Misbachul munir yang mengatakan jika manusia salah maka disuruh istighfar, namun kalau program TV salah maka harus membuat tayangan bantahan yang memperbaiki kesalahannya. Di sini Kiyai Thobary sempat memberi masukan sambil berkelakar bahwa kalau bisa naratornya diganti suara laki laki saja dan yang fasih tajwidnya karena bagi yang bisa bahasa Arab gatel rasanya kuping mereka mendengar pengucapan kata yang salah. “Lagian…. Kalo suaranya cewek itu bahaya…, nah orang bisa mikir: Wah merdu juga suaranya, pasti cakep nih orangnya… trus jadi merangsang dehhh… Suara perempuan itu aurat lhoooo…” kata Kiyai Thobary yang langsung membuat para hadirin tertawa sehingga ruangan sempat gaduh dan suasana yang tadinya tegang jadi mencair kembali. Selain itu Kiyai Thobary juga sempat menerangkan bukti tentang fatwa ulama wahabi Syeikh Abdul aziz bin Baaz yang memang memvonis syirik pelaku tawasul persis seperti yang ditayangkan kemarin di Khazanah. Beliau melanjutkannya dengan berkata: “Faham kami jelas ahlussunah wal jama’ah, bermadzhab kepada Imam yang empat dan beraqidah Asy’ariyah – Maturidiyah…, jadi kalo misalnya bicara aqidah Uluhiyah, Rububbiyah dan Asma wa shifat ya kami nggak pake konsep Tauhid itu…” tegasnya bersemangat.
 


Habib Musthofa Mohsen al-Jufry kemudian berbicara, beliau mengatakan bahwa di Jawa timur keadaan sudah memanas akibat dari episode episode Khazanah yang kemarin. Beliau lalu memperkenalkan sahabatnya Kiyai Anshori dahlan sebagai perwakilan masyarakat aswaja Jawa timur dan mempersilahkannya berbicara. Setelah memperkenalkan dirinya Kiyai Anshori dahlan langsung memulai pembicaraannya. Beliau mengatakan hal senada dengan Habib Musthofa bahwa keadaan memang memanas disana akibat episode Khazanah tentang tawasul, sholawat, dan ziarah kubur. “Sebenarnya banyak yang mau datang kesini, tapi saya larang… Saya bilang: sudah saya saja yang ke Jakarta nanti saya akan ceritakan kepada kalian hasil pertemuannya.., Alhamdulillah mereka mau…” ujarnya. Beliau lalu menjelaskan bahwa seharusnya tim Khazanah jangan membahas hal hal yang seperti kemarin karena sangat melukai perasaan mereka yang mengamalkan shalawat badar, shalawat nariyah, tawasul dan Ziarah kubur. Beliau kemudian mengajak tim Khazanah untuk saling bekerja sama dan menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya, yang damai, bersatu dan akur satu sama lain. Bahkan beliau mengatakan siap membantu Khazanah bersama para ulama yang hadir di pertemuan itu. Terakhir beliau menyampaikan permintaannya kepada tim Khazanah tentang kepastian kapan akan menayangkan klarifikasi mereka seperti yang diminta oleh Habib Fachry Jamalulail tadi, “buat oleh oleh ke Jawa timur…” katanya.

 

Selain itu ada sesuatu yang menarik yang disampaikan oleh Kiyai Anshori dahlan ini, sebuah hal yang membuat saya dan semua orang di dalam ruangan itu berdecak kagum. Beliau berkata: “Jujur aja ini saya kesini atas solidaritas kawan kawan yang tadinya pada mau datang semua kesini…. Ada yang ngasih saya uang lima belas ribu, sepuluh ribu…, lima ribu.., bahkan seribupun ada dan saya terima… Untuk ongkos…”. Bahkan ketua komisioner KPI sempat berkata : “hebat…”. Ya… Memang hebat…, sebuah militansi seorang Aswaja tulen yang harus kita teladani, yang rela bersusah payah datang jauh jauh hanya untuk berbicara kurang dari 10 menit untuk menyampaikan aspirasinya langsung di depan orang orang yang bersangkutan secara resmi.

 

Habib Fachry Jamalulail kemudian melengkapi perkataan Kiyai Anshori dahlan tersebut dengan mengatakan bahwa permintaannya sama dan senada dengan Kiyai Anshori. Beliau kembali menyampaikan permintaannya kepada tim Khazanah agar memastikan kapan Khazanah akan menayangkan tentang Perayaan Maulid, tawasul, sholawat dan ziarah kubur. Ustadz Haikal tampak sudah akan berbicara untuk menyanggupi memastikan kapan tanggalnya, namun disela oleh Ibu Titin Rosmasari Pimred Trans 7. Dialah yang kemudian menjawab pertanyaan dari Habib Fachry Jamalulail. Dia menjelaskan panjang lebar bahwa semua hal yang telah disampaikan oleh para ulama aswaja yang hadir di pertemuan itu akan menjadi evaluasi dan masukan yang sangat positif bagi Khazanah ke depannya. Mereka berjanji akan lebih berhati hati lagi dalam menayangkan sebuah topik yang bersifat furu’iyah. Dan tim redaksi Khazanah juga meminta maaf terhadap penayangan hal hal yang sensitif kemarin yang telah melukai perasaan sebagian besar Aswaja di Indonesia. Namun tak semudah itu mereka bisa langsung memastikan kapan akan menayangkan episode yang diminta oleh Habib Fachry Jamalulail tadi. Dia lalu menerangkan dengan singkat bahwa perlu ada koordinasi dulu dengan para ustadz tim ahli mereka dan tentunya perlu proses produksi yang memakan waktu. Oleh karena itu dia mengatakan kemungkinan Insya Allah dalam empat minggu ke depan barulah tayangan yang diminta oleh Habib Fachry dan ulama aswaja lainnya tersebut bisa ditayangkan di Khazanah Trans 7.

 

Pembicaraan kemudian diambil alih kembali oleh pihak KPI yang kemudian menyampaikan beberapa kesimpulan terkait pertemuan tersebut. Seorang komisioner KPI lalu menutup pertemuan antara elemen masyarakat Aswaja dan tim redaksi Trans 7 tersebut. Masing masing fihak lalu saling bersalaman satu sama lain dalam suasana yang akrab. Tampak oleh saya ustadz Haikal menghampiri Habib Fachry Jamalulail untuk melepas rasa rindunya kepada putera gurunya tersebut, keduanya tampak sangat akrab bahkan sempat bersalaman ala Arab segala (*menempelkan pipi masing masing). Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan foto bersama antara ulama Aswaja dari Tim Sarkub, FPI, Lembaga dakwah NU, wakil MUI, KPI, dan tim redaksi Khazanah Trans 7.

 

 

Semua yang saya tuliskan disini selain berdasarkan ingatan saya juga alhamdulillah berhasil saya abadikan dalam beberapa potongan video yang akan di upload nanti di grup ataupun di web nya Sarkub. Dan saya tergerak untuk menulis laporan pandangan mata ini setelah membaca berita di Arrahmah.com yang dengan sembarangan menjelaskan hasil pertemuan ini seenak perutnya sendiri. Perwakilan Arrahmah.Com, GemaIslam.Com ataupun media wahabi lainnya tak satupun hadir di pertemuan itu, namun jika anda membaca tulisan mereka maka nampak seakan akan mereka hadir disana. Bahkan mereka dengan lancang sekali mengatakan bahwa Khazanah agar tidak goyah dan tidak terpengaruh oleh bisikan-bisikan syetan yang menyesatkan. Sungguh sebuah perkataan yang keji mengingat tim Khazanahnya sendiri sudah meminta maaf secara terbuka dan berjanji untuk membetulkan kesalahan mereka tempo hari. Tampak sekali kalau mereka ingin kembali memanaskan suasana di dalam tubuh umat. Lagipula jika memang merasa berkepentingan akan kelangsungan dakwah tauhid (*versi wahabi) lantas kenapa pihak Arrahmah yang katanya adalah penegak tauhid ini tidak hadir ikut dalam pertemuan itu? Kenapa cuma berkoar koar lewat tulisan seakan akan mereka hadir disana saat itu padahal artikelnya ternyata di dapat dari copas alias nyatut dari gemaislam.com? Bukankah ini mirip tabiatnya burung beo…? Hadirpun tidak namun memutar mutar berita sesuai agenda kepentingannya sendiri berdasarkan berita hasil copy paste pula…, inilah yang namanya Jurnalisme burung beo. Semoga umat Islam khususnya Aswaja tidak terkecoh lagi dengan pemberitaan yang sejenis setelah membaca laporan pandangan mata saya ini.

 

 

 

Laporan Wartawan Sarkub:

 

(*Liga chaniago 20/04/2013)

 

Bab Cium Tangan

SAHABAT ZAID BIN TSABIT DAN SAYIDINA ABDULLAH BIN ABBAS

 

 

Saudaraku..

Dan jika kita menyebut nama keduanya, maka kita teringat ungkapan Abu Hurairah ra, saat Zaid bin Tsabit wafat, “Telah wafat samudera ilmu dari umat ini, mudah-mudahan Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai pengganti (penerus)-nya.”

 

Dan saat kita mengenang keduanya, maka kita dapat belajar bagaimana kita menghormati dan menghargai orang-orang yang memiliki kelebihan dan keutamaan dalam agama ini.

 

Amar bin Abu Amar menuturkan, bahwa suatu hari sang “samudera ilmu”, Abdullah bin Abbas menghampiri Zaid bin Tsabit kala hendak mengendarai untanya. Abdullah segera meraih kendalinya kemudian menuntun unta tersebut.

Zaid menahannya seraya berucap, “Lepaskanlah, wahai putera paman Rasulullah.”

Ibnu Abbas berkata, “Beginilah kami diajari (Nabi kami) untuk menghargai guru-guru dan ulama-ulama kami.”

Zaid lalu berkata, “Ulurkanlah tanganmu.”

Begitu Ibnu Abbas mengulurkan tangannya, Zaid memegang tangannya dan langsung menciumnya seraya berkata, “Beginilah kami diarahkan untuk memuliakan ahlul bait Rasul kami.”

 

Menuntun kendali unta yang diperbuat oleh Ibnu Abbas dan cium tangan yang dilakukan oleh Zaid bin Tsabit hanya merupakan contoh dari sikap saling menghormati, menghargai dan memuliakan orang yang berilmu pengetahuan dan tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat.

 

Cium tangan untuk menghormati, menghargai dan memuliakan ulama dan ahli ilmu, berdasarkan beberapa atsar telah dilakukan oleh sahabat dan tabi’in.

 

Abdurahman bin Razin rahimahullah pernah mencium tangan salah seorang sahabat; Salamah bin Akwa’ ra,Tsabit Al Bunani juga pernah mencium tangan Anas bin Malik ra,Sedangkan Abu Malik Al Asyja’i pernah mencium tangan Abdullah bin Abu Aufa ra.

 

Tapi para sahabat tidak pernah menyodorkan tangannya untuk dicium oleh sahabat lain atau generasi setelahnya yakni para tabi’in.

Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahar di tanya tentang hukum mencium tangan ahlul bait Nabi Muhammad saw., beliau berkata : “Mencium tangan ahlul bait adalah termasuk usaha untuk mendekatkan diri kepada Al-Habib Al-A’dhom, Rasulullaah saww.”, Allah Ta’ala mewahyukan :

قل لا أسالكم عليه أجرا إلا المودة فى القربى.

 

Qul laa as’alukum ‘alaihi ajron illa al-mawaddata fil-qurbaa. “Katakanlah, Aku tidak meminta kepada kalian sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluarga(ku).”. (Asy-Syura, 42 : 23).

 

Sayyidinaa Abdullah bin Abbas ra. adalah salah seorang ahlul bait. Ketika Sayyidinaa Zaid bin Tsabit ra. selesai menyalatkan jenazah, seseorang mengambil kuda beliau. Sayyidinaa Abdullah bin Abbas ra. mengambil alih dari orang itu, lalu memegang kendali kuda itu dan menuntunnya untuk diserahkan kepada pemiliknya. Sayyidinaa Zaid bin Tsabit ra. berkata kepada beliau, “Wahai, sepupu Rasulullaah saww., mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Beginilah kami diperintah untuk menghormati para ulama kami.” Sayyidinaa Zaid bin Tsabit ra. segera mencium tangan beliau dan berkata, “Beginilah kami diperintah untuk memuliakan ahlul bait Rosulillah saw”.

(Faidhul Qadir juz 3 hal.253)

Siapa Sultan Muhammad Fatih Ra dan Gambaran Wahabi dimasa Daulah Utsmaniyyah

تفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش

 

“Konstantinopel akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang berhasil menaklukkannya, dan sebaik-baik bala tentara adalah bala tentara yang menaklukkannya”. (HR Ahmad)

 

Hadist ini mengandung makna sebagai berikut,

 

1. keridhaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam kepada Amir/Panglima penaklukan Konstantinopel, Sultan Muhammad Al Fatih rahimahullah.2. Keridhaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam kepada seluruh anggota pasukan penaklukan Konstantinopel rahimahumullah.3. Keridhaan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap akidah seluruh anggota pasukan penaklukan Konstantinopel rahimahumullah. Sebab jika mereka memiliki akidah yang menyimpang, sudah tentu mereka tidak akan disebut sebagai pasukan terbaik.4. Keridhoan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap amaliyah tasawuf . Sebab seluruh anggota pasukan adalah pengamal tasawuf. Sultan Muhammad Al Fatih adalah sufi Tarekat Naqshabandiyah. Sedangkan anngota pasukan, khususnya pasukan Janissary sebagai pasukan inti adalah sufi Tarekat Bektasiyah. Sedangkan unit-unit pasukan lain, seperti Resimen Anatolia dan tentara irreguler hampir semuanya juga sufi dari berbagai macam Tarekat ( Maulawiyah, Qodiriyah, Naqshabandiyah dan lain-lain ). Andaikan amaliyah tasawuf merupakan sebuah kesesatan, maka sudah tentu Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam tidak akan menyebut mereka sebagai pasukan terbaik. Tapi pasukan ahli bid’ah.

 

5. Keridhoan Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam terhadap akidah Ahlussunnah Wal jama’ah yang diajarkan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidy. Sebab seluruh pasukan Utsmani pada saat itu mengikuti ajaran kedua Imam Agung ini.Inilah salah satu sosok Sultan Utsmani, Sultan Muhammad Al Fatih yang dibanggakan oleh Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam.

 

Sebelum beliau lahir, Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam telah memberikan kabar gebira tentang beliau…. Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

 

Jika anda terkagum-kagum dengan penggambaran perang yang ketat antara Balian of Ibelin melawan Shalahudin Al-Ayyubi di film Kingdom of Heaven [resensi Priyadi], maka perang antara Constantine XI Paleologus dengan Muhammad Al-Fatih jauh lebih ketat, tidak hanya dalam hitungan hari tapi berminggu-minggu. Sultan Muhammad Al Fateh atau yang disebut juga Mehmed II The Conqueror dilahirkan pada tanggal 29 March 1432. Saat kelahirannya pun sudah terdapat isyarat bahwa dia nantinya akan menjadi orang besar yang membuat sejarah besar. Ketika berita kelahirannya disampaikan, ayahnya, Sultan Murad II sedang membaca Al Quran tepat pada Surat Al Fath ayat 1:“Sesungguhnya Kami telah memberikan padamu kemenangan yang nyata.”Kelahirannya ada pertanda

 

Menjelang kelahirannya, Sultan Murad sebenarnya sedang mempersiapkan penyerbuan ke Konstantinopel (Constantinople), ibu kota Kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium. Setelah anaknya Muhammad lahir, datanglah seorang ulama besar Islam ke istana Sultan dan beliau mengatakan bahwa bayi itulah yang nantinya akan menaklukkan Konstantinopel seperti sabda Rasulullah SAW:“Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.”

 

Ulama itu bernama Syeikh Syamsuddin Al Wali dari Khurasan (sekarang Uzbekistan). Beliau adalah seorang syeikh tarekat Naqsyabandiyah. Sultan Murad sangat yakin dengan ilham Syeikh Syamsuddin Al Wali sehingga baginda menyerahkan putera mahkota yang masih kecil kepada Syeikh Syamsuddin untuk dididik.Didikan tarekat sufi dan kecakapan perangSyeikh Syamsuddin mendidik muridnya ini dengan disiplin tarikat yang cukup keras. Penuh dengan latihan mengekang hawa nafsu dan hidup susah sehingga hasilnya Pangeran Muhammad menjadi seseorang yang berjiwa kuat dan sangat tahan dalam menghadapi ujian. Beliau dididik memiliki cita-cita besar yaitu menepati janji Tuhan melalui Rasulullah SAW: menaklukkan Konstantinopel. Untuk ilmu perang, ayahnya mendatangkan panglima-panglima yang paling berpengalaman untuk mendidik beliau. Beliau sendiri adalah seorang cendekiawan yang gemar mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan di istana untuk berdiskusi.

 

Pada usia 19 tahun beliau naik tahta menggantikan ayahnya. Mulailah persiapan penaklukan dilakukannya. Beliau mendidik tentara dan rakyatnya agar menjadi orang-orang yang bertaqwa. Seluruh tentera dan rakyatnya dididik agar sanggup bangun malam dan merintih munajat pada Tuhan. Sebaliknya di siang hari mereka adalah singa-singa yang berjuang di jalan Allah. Beliau juga mengadakan operasi intelijen untuk membebaskan seorang ahli pembuat meriam dari penjara Romawi. Bersama para insinyurnya beliau membangun benteng, kapal-kapal perang dan meriam-meriam yang canggih untuk ukuran zaman itu. Bahkan dalam membangun benteng Rumeli Hasari di Selat Bosphorus beliau turun tangan ikut mengangkat batu dan pasirnya.

 

Takluknya KonstantinopelSetelah persiapan matang, dimulailah penyerbuan ke Konstatinopel. Perang yang hebat berkecamuk lebih satu bulan, belum juga tampak tanda-tanda kemenangan. Bahkan pasukan Islam mengalami kesukaran mendekati benteng Romawi di tepi Selat Bosphorus tersebut karena di taut pasukan Romawi memasang rantairantai berukuran besar yang sangat panjang hingga menghalangi kapal yang akan mendekat. Dalam ketidakpastian itu Sultan Muhammad Al Fateh bertanya pada syeikhnya yang mulia, “Wahai Guruku, kapankah saat yang dijanjikan itu tiba?” Syeikh Syamsuddin Al Wali menjawab, “Pada hari ke 53, hari Selasa pukul 11 pagi.” Ini adalah ilham berbentuk berita ghaib yang diterima oleh Syeikh Syamsuddin Al Wali. Sultan Muhammad sangat yakin pada ilham gurunya. Beliau makin bersungguh-sungguh meningkatkan ketaqwaan pada Allah dan mengajak tentaranya melaksanakan hal yang serupa sebab hanya orang bertaqwa yang mendapat bantuan Tuhan.

 

Pada suatu malam di bulan Mei 1453 terjadilah peristiwa yang luar biasa. Para insinyur Sultan telah menemukan inovasi teknologi luar biasa yang bisa disebut terobosan besar di zaman itu. Mereka berusaha membuat agar kapal-kapal perang Islam dapat berjalan di darat. Dengan memutari selat, pada tengah malam tibalah kapat-kapal pasukan Sultan Muhammad At Fateh ke bagian belakang benteng Konstantinopel. Kota Konstantinopel sebenarnya adalah kota yang sangat strategis karena ditindungi oleh benteng alami, yaitu perbukitan. Kapal-kapal tentara Islam yang berjumlah 70 kapal mendarat di Semenanjung Pera di pinggir perbukitan itu dan berusaha mendakinya. Terjadilah keajaiban yang merupakan karamah bantuan Tuhan di malam itu. Secara lahiriyah, meskipun kapal-kapal tersebut dapat ‘dipaksa’ berjalan di darat dengan menggunakan balok-balok kayu raksasa tapi tetap saja untuk mendaki bukit untuk membawa 70 kapal layar berukuran besar dalam tempoh beberapa jam adalah hal yang mustahil. Apa yang sebenarnya terjadi? Kapal-kapal itu bukanlah berjalan di darat tetapi seakan melayang mendaki dan menyusuri perbukitan sejauh 16 km sampai di Golden Horn sehingga operasi pendaratan 5.000 pasukan itu selesai dalam waktu singkat. Dari sanalah mereka menyerbu Konstantinopet. Paginya, pada hari Selasa 29 Mei 1453 Konstantinopel takhluk ke tangan tentara Islam di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al Fateh.

 

Telah diceritakan bahwa ketika Sultan Muhammad At Fateh memasuki Konstantinopel, para perajuritnya menemukan makam sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al Anshari ra. Di makam tersebut mereka melihat sebagian kaki Abu Ayyub tersembul keluar dari tanah. Kaki tersebut putih bersih, sama sekali tidak terlihat rusak walaupun beliau telah wafat selama 600 tahun. Inilah karamah para sahabat Nabi. Sultan panglimanya bergiliran mencium kaki tersebut. Giliran Sultan yang terakhir. Ketika Sultan Muhammad Al Fateh akan mencium kaki Sahabat Rasulullah itu, tiba-tiba kaki tersebut masuk ke dalam tanah. Telah diceritakan pula bahwa pada petang hari setelah penaklukan bersejarah itu Syeikh Syamsuddin Al Wali bermimpi bertemu dengan Abu Ayyub Al Anshari. Beliau (Abu Ayyub) menyampaikan ucapan selamat pada Sultan Muhammad Al Fateh karena berhasil menaklukkan Konstantinopel dan menyatakan bahwa beliaulah yang sepatutnya mencium kaki Sultan Muhammad Al Fateh sebagai orang yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW.

 

Pada hari Jum’at pertama di Konstantinopel, ketika diadakan shalat Jum’at untuk pertama kalinya, terjadi kebingungan dalam menentukan siapa yang menjadi imam. Sultan pun dengan lantang meminta seluruh tentaranya berdiri dan mengajukan pertanyaan: “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggalkan shalat fardhu silakan duduk!” Tidak ada seorang pun yang duduk. Ini berarti seluruh tentara Sultan sejak usia baligh tidak pernah meninggalkan shalat fardhu.Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggatkan shalat sunat rawatib silakan duduk!” Sebagian tentaranya masih tegak berdiri dan sebagian lagi duduk. Jadi sebagian tentara sultan sejak balighnya tidak pernah meninggalkan shalat sunat rawatib.Kemudian Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud silakan duduk!” Kali ini seluruh tentara duduk. Yang tinggal berdiri hanya Sultan sendiri. Ternyata sejak usia baligh Sultan belum pernah meninggalkan shalat tahajud sehingga beliaulah yang paling pantas menjadi imam shalat Jum’at. Memang benarlah kata Rasulullah SAW, “Sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik tentara dan sebaik-baik rakyat.”

 

[Taken from Kawan Sejati Magazine vol 11/ TH Kekaisaran Romawi terpecah dua, Katholik Roma di Vatikan dan Yunani Orthodoks di Byzantium atau Constantinople yang kini menjadi Istanbul. Perpecahan tersebut sebagai akibat konflik gereja meskipun dunia masih tetap mengakui keduanya sebagai pusat peradaban. Constantine The Great memilih kota di selat Bosphorus tersebut sebagai ibukota, dengan alasan strategis di batas Eropa dan Asia, baik di darat sebagai salah satu Jalur Sutera maupun di laut antara Laut Tengah dengan Laut Hitam dan dianggap sebagai titik terbaik sebagai pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik saat itu.Yang mengincar kota ini untuk dikuasai termasuk bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, Arab-Muslim dan Pasukan Salib meskipun misi awalnya adalah menguasai Jerusalem. Arab-Muslim terdorong ingin menguasai Byzantium tidak hanya karena nilai strategisnya, tapi juga atas kepercayaan kepada ramalan Rasulullah SAW melalui riwayat Hadits di atas.

 

Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn.

 

Generasi berikutnya, baik dari Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkan adalah melawan Vlad Dracul, seorang tokoh Crusader yang bengis dan sadis (Dracula karya Bram Stoker adalah terinsipirasi dari tokoh ini). Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani.Sejak Sultan Murad I, Turki Utsmani dibangun dengan kemiliteran yang canggih, salah satunya adalah dengan dibentuknya pasukan khusus yang disebut Yanisari. Dengan pasukan militernya Turki Utsmani menguasasi sekeliling Byzantium hingga Constantine merasa terancam, walaupun benteng yang melindungi –bahkan dua lapis– seluruh kota sangat sulit ditembus, Constantine pun meminta bantuan ke Roma, namun konflik gereja yang terjadi tidak menelurkan banyak bala bantuan.

 

Hari Jumat, 6 April 1453M, Muhammad II atau disebut juga Mehmed bersama gurunya, syaikh Aaq Syamsudin, beserta tangan kanannya, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Byzantium dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 150.000 ribu pasukan dan meriam buatan Urban –teknologi baru pada saat itu– Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Constantine Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.

 

Kota dengan benteng 10m-an tersebut memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7m. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah pasukan Constantine mampu mempertahankan celah tersebut dan dengan cepat menumpuk kembali hingga tertutup. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki wilayah selat Golden Horn.

 

29 Mei, setelah sehari istirahat perang Muhammad II kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari. Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.Konstantinopel telah jatuh, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen. Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.

 

Toleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut. Sultan kemudian membangun kembali kota, membangun sekolah –terutama sekolah untuk kepentingan administratif kota– secara gratis, siapa pun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama, membangun pasar, membangun perumahan, bahkan rumah diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah di reruntuhan kota Byzantium tersebut. Hingga akhirnya kota tersebut diubah menjadi Istanbul, dan pencarian makam Abu Ayyub dilakukan hingga ditemukan dan dilestarikan.Dan inilah Sultan Abdul Hamid II, Sultan Daulah Utsmaniyah yang diperangi oleh persekutuan antara Kaum Wahabi dan tentara Salib Inggris.

 

Selama masa kepemimpinannya, Sultan Abdul Hamid II senantiasa dihadapkan dengan pelbagai permasalahan kenegaraan yang sangat rumit, yang jika tidak diselesaikan dengan tepat akan mengancam eksistensi kekhilafahan Turki Utsmaniyyah waktu itu. Pelbagai macam kekacauan dalam segala aspek tersebut bukan hanya berasal dari faktor interen -kalangan pejabat pemerintahan yang haus kekuasaan serta ancaman disintegrasi daerah yang jauh dari pusat pemerintahan Utsmaniyyah-, namun yang lebih mengancam adalah rongrongan kebencian dan kerakusan dari eksteren Eropa yang bermaksud menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmaniy.

 

Dalam menyelesaikan semua konflik yang datang, Abdul Hamid II senantiasa mementingkan pendekatan persuasif dalam pemecahan permasalahan dalam negerinya. Ia senantiasa menyebarkan ide-ide pemersatuan semua kelompok yang berada dalam kekuasaan kerajaan Utsmaniyyah untuk menggalang persatuan demi menghadapi menghadapi ancaman dari pihak luar yang ingin menghancurkan eksistensi kerajaan Utsmaniyyah. Ia mengusahakan terjalinnya persatuan antara pengikut Ahl sunnah wa al jamaah dengan pengikut Syiah demi menjaga wilayah Utsmaniyyah dari penjajahan bangsa kolonial Eropa.Politik devide et empera yang diterapkan oleh bangsa kolonial Prancis, Inggris, Rusia dan Negara-negara Eropa lainnya untuk memecah belah persatuan umat. Ide Nasionalisme Arab yang ditanamkan kepada bangsa Mesir dan Negara-negara Afrika oleh Inggris dan Prancis demi mengahancurkan kekhilafahan Utsmaniyyah dari dalam, ia senatiasa menyikapinya dengan kecermatan dan kehati-hatian yang sangat mendalam. Semua itu ia lakukan bukan lantaran keterbatasan kekuasaan yang ia miliki, namun hal tersebut lebih dari demi menjaga kesatuan umat agar tidak terpecah belah. Sehingga bangsa Eropa yang sangat berkepentingan demi hancurnya kekhilafahan Utmaniyyah tidak bisa mengambil mamfaat dari lemahnya persatuan umat.

 

Sultan Abdul Hamid II mengutamakan membangun kesatuan umat, dengan lebih berkosentrasi terhadap perdamaian dengan para pejabat yang berniat melengserkannya. Ia memberi para pejabat tersebut fasilitas dan jabatan, berharap mereka dapat menyingkirkan ide-ide busuk mereka yang akan berdampak terhadap perpecahan umat dan disintegrasi negeri-negeri Islam yang jauh dari pusat.Walau ia berhadapan dengan permasalahan dalam negeri yang sangat kompleks, Abdul Hamid II juga tidak pernah mengabaikan setiap gangguan yang mengancam kaum muslimin yang datang dari luar. Demi mempertahankan wilayah teritorial Utsmaniyyah dari gangguan Rusia, Sultan Abdul Hamid II bahkan rela membiayai perang dengan Rusia dengan hata pribadinya.

 

Salah satu konsistensi yang diperlihatkan oleh Sultan Abdul Hamid II dalam memelihara territorial wilayah Utsmaniyyah ialah usahanya dalam mempertahankan al Quds (Palestina) dari pencamplokan bangsa Yahudi. Usaha lobby yang gencar dilakukan para petinggi Zionis -Theodore Hertzl- agar sultan mau memberikan wilayah Palestina bagi kaum Yahudi, ia tolak mentah-mentah. Bahkan tawaran harta pribadi bagi sultan serta janji pelunasan hutang Negara Utsmaniyyah yang mencapai 300 juta lira, tidak mampu meluluhkan keteguhannya dalam mempertahankan tanah Palestina.“Aku tidak dapat menjual bagian dari negeri tersebut (Palestina) walau satu telapak kaki pun, karena negeri itu bukan milikku, tetapi milik rakyatku. Rakyatku telah sampai kedaerah itu dengan mengucurkan darah mereka, dan mereka pun akan kembali menumpahkan darah mereka esok hari. Di masa mendatang, kami tak akan membiarkan seorang pun merampasnya dari kami”. Demikian tulis Hertzl mengutip jawaban dari Abdul Hamid II, ketika ia berusaha meminta Alquds kepada sultan. (Harb, Muhammad. 2004. Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II (terjemahan Abdul Halim). Bogor: Pustaka Thariqul Izzah).

 

Sayang sekali, upaya Khalifah Abdul Hamid untuk mempertahankan Khilafah Islamiyah ini ditolak bahkan dikhianati oleh kaum Wahabi. Mereka ini akhirnya menjadi alat kaum Salib Inggris meruntuhkan Khilafah Islam dari Jazirah Arabia. 

 

Anehnya, mengapa kaum Wahhabi tidak merasa sebagai bagian dari Khilafah Islam ? Padahal Rasulullah shallallah alayhi wa aalihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang memisahkan diri dari jama3ah ( Khilafah Islam ), maka ia mati sebagaimana bangkai jahiliyyah “ ( H.R. Muslim ). akidah TAKFIR adalah akidah yang menyebabkan kaum Wahabi sangat ganas dan banyak melakukan pembantaian terhadap kaum muslimin. kaum Wahhabi merasa tidak di bawah Khilafah Utsmaniyah, ini berarti mereka masuk dalam cakupan hadist ,” Barang siapa yang meninggal sedangkan di lehernya tidak ada bay’ah, maka ia mati sebagaimana bangkai jahiliyyah” ( H.R. Muslim/Riyadhus Shalihiin ). 

 

Sudah tentu, memisahkan diri dari Jama3ah adalah sebuah bid’ah..dan kaum Wahhabi sepanjang sejarahnya sering kali melakukan hal ini. Bahkan dalam perang dunia I, saat kaum muslimin bahu membahu dengan Khalifah Abdul Hamid II Al Utsmani, kaum Wahhabi justru berada pada posisi kaum Salib Inggris memerangi Khalifah Islam hingga akhirnya Khilafah Utsmaniyah runtuh…Sudah tentu.ini adalah bid’ah tanpa ada satu pun dalil yang membenarkannya..

 

ITULAH DOSA WAHABI TERHADAP ISLAM…

 

Sumber:Copi paste dari tulisan akhil al kariim Deskov Emir Balitaristan

 

Tambahan keterangan :

Syaikh Salim Alwan Al-Husaini mengatakan, Sulthan Fatih yg saat itu berusia 21 tahun menginstruksikan muazin dijamannya untuk membacakan semacam kitab akidah asy-syariyyah wal maturiddiyyah sebelum subuh dimasjid-masjid untuk menyatukan hati ummat Muslim saat itu…dan para Ulama saat itu tidak ada yg mengatakan “HAL ITU TIDAK PERNAH DILAKUKAN PARA SALAF TERDAHULU. BI’DAH, TERCELA, MASUK NERAKA”. Malah Para Alim Ulama mendoakan Sultah Fatih semoga diberi Rahmat oleh ALLAH……..

Syaikh Salim mengatakan Akidah Asy-Syariyyah Wal Maturidyyah ternyata mampu menyatukan hati para muslimin saat itu dan ALLAH menolong mereka membuka konstatinopel

 

Sumber : diambil dari sumber terpercaya

Secuplik Syaikh Ahmad Dabbagh

Syaikh Ahmad Dabbagh adalah seorang Mursyid pembersih jiwa dalam Thoriqoh Muhammadiyyah, Syadziliyyah dan Qodiriyyah, yg sekarang ini berdomisili di kota Manchester Inggris bersama istri dan anaknya. Syaikh Ahmad Dabbagh adalah seorang Syaikh dari keturunan Imam Hasan Al-Bashri Ra yg lahir di Pakistan dan besar di Denmark. Guru pertama Syaikh Ahmad Dabbagh adalah kakek dan neneknya Ra yg kita tahu bersama kakek dan nenek beliau seorang Auliya Allah. Kakek Syaikh Ahmad Dabbagh yaitu Syaikh Khairuddin Auliya adalah murid dari Syaikh Bahauddin Zakariyya Multani Suharwardi Ra

Pada usia 6 tahun ia memiliki keinginan untuk menghafal Al-Quran, mempelajari ilmu-ilmu
Islam dan menghabiskan beberapa tahun berikutnya hidupnya belajar dengan sejumlah
Masyaikh dan Ulama yg mana dari mereka-mereka Syaikh Ahmad Dabbagh menerima ijin untuk mengajarkan sejumlah disiplin ilmu

Syaikh Ahmad Dabbagh memiliki kualifikasi pascasarjana dari Salford University di Pemasaran Strategis dan Manajemen Keuangan dari University of Central Lancashire, dan telah bekerja di kepolisian dan layanan penjara di Inggris. Sekarang ia memilih untuk mengambil gaji dari mata pencaharian dan tidak mengambil upah atau gaji untuk pekerjaan dari agama.

Dalam beberapa tahun terakhir SYaikh Ahmad Dabbagh dan orang-orang yang berada di bawah pengawasannya telah membantu orang lain (salikin) yang mencari kedekatan Allah dengan mendirikan 3 zawiyahs di North West of England dan dapat dilihat di stasiun TV setiap Rabu malam dan Kamis antara 530-630 pm pada Sky 802. Dia memberikan pengajian sampai 6 wacana seminggu yang dapat didengarkan dan dilihat langsung di situs ini www (dot) Zawiyah (dot) org

Syaikh Ahmad Dabbagh telah melakukan perjalanan ke kota-kota suci Madinah / Makkah dan Fez dalam beberapa tahun terakhir di mana banyak orang-orang ingin untuk mengambil jalan penyucian manfaat dari karya-karyanya (baiat Thoriqoh), dan selanjutnya banyak orang mengambil ajaran ke Turki, India, Pakistan, Bangladesh dan Timur Tengah di mana zawiyahs telah didirikan di bawah bimbingannya. Ia menerima banyak ijazah dari syuyukh di Shadhili-Darqawi Tariqahs selain ijazas dia di Tariqahs Naqhsbandi, Suharwardi & Qadiri dari berbagai guru.

Metode pemurnian yang saat ini diajarkan mempunya sanad kepada Sayyidina Abdul Azeez Dabbagh rahimahullah dan Sayyidina Abdul Qadir Al Jilani rahimahullah dan Thoriqoh yang dibawa Syaikh Ahmad Dabbagh dikenal sebagai Tareeqah Muhammadiyah.

Pendidikan Islam

1975 – 1989 aqidah: Sanad Imam Abu Matureedi (rahimahullah)

Fiqh: Sanad Imam Abu Hanifah (rahimahullah)

Hadis: Ijazah dalam enam kitab hadis, Shahih Bukhari Muslim, Abu Dawud, Nisa’ie, Tirmidzi & Ibnu Majah

Tazkiyah: Sanad ke Syyiduna Abdul Qadir Al Jilaani (rahimahullah)

Sirah, Prinsip Deen & Sanad dari Hifz dari seluruh Quran.

Sekuler Pendidikan

1990 – 1995 Salford University & University of Central Lancashire

BTEC Pertama Diploma di Bisnis & Keuangan

BTEC National Diploma in Business Finance

Pascasarjana Diploma di bidang Administrasi Bisnis

Diploma DPSI dalam Pelayanan Publik menafsirkan pekerjaan

1995 – Lembaga Berbagai Hadir

Pengajaran Bahasa (Bahasa Inggris, Urdu Arabic)

Sanad ke Thoriqohan Syaikh Ahmad Dabbagh bisa dilihat disini
http://zawiyah (dot) org/PDFs/TM_Sanad (dot)pdf

Syaikh Ahmad Dabbagh adalah seorang Mursyid pembersih jiwa dalam Thoriqoh Muhammadiyyah, Syadziliyyah dan Qodiriyyah, yg sekarang ini berdomisili di kota Manchester Inggris bersama istri dan anaknya. Syaikh Ahmad Dabbagh adalah seorang Syaikh dari keturunan Imam Hasan Al-Bashri Ra yg lahir di Pakistan dan besar di Denmark. Guru pertama Syaikh Ahmad Dabbagh adalah kakek dan neneknya Ra yg kita tahu bersama kakek dan nenek beliau seorang Auliya Allah. Kakek Syaikh Ahmad Dabbagh yaitu Syaikh Khairuddin Auliya adalah murid dari Syaikh Bahauddin Zakariyya Multani Suharwardi Ra

Pada usia 6 tahun ia memiliki keinginan untuk menghafal Al-Quran, mempelajari ilmu-ilmu
Islam dan menghabiskan beberapa tahun berikutnya hidupnya belajar dengan sejumlah
Masyaikh dan Ulama yg mana dari mereka-mereka Syaikh Ahmad Dabbagh menerima ijin untuk mengajarkan sejumlah disiplin ilmu

Syaikh Ahmad Dabbagh memiliki kualifikasi pascasarjana dari Salford University di Pemasaran Strategis dan Manajemen Keuangan dari University of Central Lancashire, dan telah bekerja di kepolisian dan layanan penjara di Inggris. Sekarang ia memilih untuk mengambil gaji dari mata pencaharian dan tidak mengambil upah atau gaji untuk pekerjaan dari agama.


Dalam beberapa tahun terakhir SYaikh Ahmad Dabbagh dan orang-orang yang berada di bawah pengawasannya telah membantu orang lain (salikin) yang mencari kedekatan Allah dengan mendirikan 3 zawiyahs di North West of England dan dapat dilihat di stasiun TV setiap Rabu malam dan Kamis antara 530-630 pm pada Sky 802. Dia memberikan pengajian sampai 6 wacana seminggu yang dapat didengarkan dan dilihat langsung di situs ini www (dot) Zawiyah (dot) org

Syaikh Ahmad Dabbagh telah melakukan perjalanan ke kota-kota suci Madinah / Makkah dan Fez dalam beberapa tahun terakhir di mana banyak orang-orang ingin untuk mengambil jalan penyucian manfaat dari karya-karyanya (baiat Thoriqoh), dan selanjutnya banyak orang mengambil ajaran ke Turki, India, Pakistan, Bangladesh dan Timur Tengah di mana zawiyahs telah didirikan di bawah bimbingannya. Ia menerima banyak ijazah dari syuyukh di Shadhili-Darqawi Tariqahs selain ijazas dia di Tariqahs Naqhsbandi, Suharwardi & Qadiri dari berbagai guru.

Metode pemurnian yang saat ini diajarkan mempunya sanad  kepada  Sayyidina Abdul Azeez Dabbagh rahimahullah dan Sayyidina Abdul Qadir Al Jilani rahimahullah dan  Thoriqoh yang dibawa Syaikh Ahmad Dabbagh dikenal sebagai Tareeqah Muhammadiyah.

Pendidikan Islam

1975 - 1989 aqidah: Sanad Imam Abu Matureedi (rahimahullah)

Fiqh: Sanad Imam Abu Hanifah (rahimahullah)

Hadis: Ijazah dalam enam kitab hadis, Shahih Bukhari Muslim, Abu Dawud, Nisa'ie, Tirmidzi & Ibnu Majah

Tazkiyah: Sanad ke Syyiduna Abdul Qadir Al Jilaani (rahimahullah)

Sirah, Prinsip Deen & Sanad dari Hifz dari seluruh Quran.

Sekuler Pendidikan

1990 - 1995 Salford University & University of Central Lancashire

BTEC Pertama Diploma di Bisnis & Keuangan

BTEC National Diploma in Business Finance

Pascasarjana Diploma di bidang Administrasi Bisnis

Diploma DPSI dalam Pelayanan Publik menafsirkan pekerjaan

1995 - berbagai lembaga

Pengajaran Bahasa (Bahasa Inggris, Urdu Arabic)

Sanad ke Thoriqohan Syaikh Ahmad Dabbagh bisa dilihat disini
http://zawiyah (dot) org/PDFs/TM_Sanad (dot)pdf

NAJD QARN dan FITNAH

Selama ini kaum Salafi Wahabi selalu mengelak bahwa Najd itu bukan di Hijaz, tetapi menurut mereka bahwa najd adalah di Irak. Lalu kenapa Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa Miqat Penduduk Najd di Qarn  seperti disebutkan dalam Hadist Shahih “Sunan Al Imam Al Nasa’i”  no. 2656? Nah, bukankah hadits ini bisa menjadi bukti bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan Najd itu bukan berada di Irak?

Seandainya Najd adalah Irak, apa manfaatnya ketika Rasulullah Saw membedakan miqat bagi penduduk Najd dan penduduk Iraq sebagaimana yang ada dalam hadits shahih Al Nasa’i? Penduduk Iraq miqotnya di Dzat Irq (Timur Laut Makkah), sedangkan Penduduk Najd miqat di Qarnul Manazil sebelah timur dari kota Makkah. Mari kita lihat bersam-sama haditsnya sebagai berikut:

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلي قال حدثنا أبو هاشم محمد بن علي عن المعافى عن أفلح بن حميد عن القاسم عن عائشة قالت وقَّت رسول الله صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحُليفة ولأهل الشام ومصر الجحفة ولأهل العراق ذات عرق ولأهل نجد قرناً ولأهل اليمن يلملم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Ammar Al Maushulli yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Haasyim Muhammad bin ‘Ali dari Al Mu’afiy dari Aflah bin Humaid dari Qasim dari Aisyah yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam dan Mesir di Juhfah, bagi penduduk Iraq di Dzatu ‘Irq, bagi penduduk Najd di Qarn dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam (Shahih Sunan Nasa’i no 2656)

****

Wajib Haji:  Berniat Ihram di Miqat

Definisi: Berniat ihram ialah berniat untuk mengerjakan haji. Niat tersebut hendaklah dilakukan di miqat.

Definis Miqat: Miqat ialah ketentuan tempat atau masa untuk berniat ihram haji.Miqat terbahagi kepada dua iaitu Miqat Zamani dan Miqat Makani.

MIQAT ZAMANI BAGI HAJI

Miqat Zamani haji ialah waktu bagi seseorang untuk berniat ihram haji. Dimulai sejak dari 1 Syawal hingga seketika sebelum terbit fajar (masuk waktu Subuh) pada hari 10 Zulhijjah. Tempo inilah yang dinamakan sebagai bulan-bulan haji. Apabila seseorang itu berniat ihram haji dalam bulan-bulan tersebut maka niatnya adalah sah. Jika dia berniat haji di luar masa tersebut, maka dengan sendirinya niat ihramnya itu bertukar menjadi niat ihram umrah.

MIQAT MAKANI BAGI HAJI

Miqat Makani bagi haji ialah ketentuan tempat untuk seseorang berniat ihram haji.

MIQAT MAKANI HAJI BAGI PENDUDUK LUAR MAKKAH

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ وَقَّتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ وَلِأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ وَلِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ وَلِأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ فَهُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ لِمَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ فَمَنْ كَانَ دُونَهُنَّ فَمُهَلُّهُ مِنْ أَهْلِهِ وَكَذَاكَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا

“Dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al Juhfah, bagi penduduk Najd di Qarnul Manazil dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Itulah ketentuan masing-masing bagi setiap penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut bila datang melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk hajji dan umrah. Sedangkan bagi orang-orang selain itu, maka mereka memulai dari tempat tinggalnya (keluarga) dan begitulah ketentuannya sehingga bagi penduduk Makkah, mereka memulainya (bertalbiah) dari (rumah mereka) di Makkah.” ( HR Bukhari dan Muslim )

Dan dalam hadits Aisyah  : “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Salam menjadikan untuk penduduk Iraq Dzatu Irqin sebagai miqat mereka. “ (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Jadi miqat haji bagi penduduk di luar Makkah berdsar petunjuk Nabi Muhammad Saw dalam hadits-hsdits di atas ada di lima tempat:

1.         Yalamlam (al-Sa’diyyah):
Miqat bagi penduduk-penduduk Yaman dan orang-orang yang datang dari arahnya.Yalamlam ialah nama sebuah bukit yang terletak berhampiran Laut Merah di Semenanjung Tanah Arab. Jaraknya lebih kurang 89 kilometer dari Makkah.

2.         Zulhulaifah (Abyar Ali/Bir Ali):
Miqat bagi penduduk Madinah dan orang-orang yang datang dari arahnya. Jaraknya lebih kurang 425 kilometer dari Makkah dan lebih kurang 10 kilometer dari Masjid Nabawi.

3.         Al-Juhfah:
Miqat bagi penduduk Syam (Jordan, Lubnan, Palestin, Syria) dan orang-orang yang datang dari arahnya. Jaraknya lebih kurang 187 kilometer dari Makkah. Pada masa sekarang, tempat berihram bagi miqat ini ialah di kawasan yang dikenali sebagai al-Rabigh.

4.         Qarn al-Manazil (al-Sayl):
Miqat bagi penduduk Najd dan orang-orang yang datang dari arahnya. Jaraknya dari lebih kurang 94 kilometer dari Makkah.

5.         Zatu`Irqin (al-Daribah):
Miqat bagi penduduk Iraq dan orang-orang yang datang dari arahnya. Jaraknya kurang 94 kilometer dari Makkah.

Dari pembahasan miqat haji ini, kita jadi ingin tahu rahasianya  kenapa Nabi saw menentukan miqat bagi penduduk Najd di Qarn al-Manazil ? Apakah ini ada hubungannya dengan hadits tentang fitnah tanduk ( qarn ) setan di Najd? Yaitu ketika para Sahabat memohon kepada Rasulullah Saw do’a keberkahan bagi penduduk Najd namun Rasulullah menolak sembari bersabda:  “Disanalah (Najd) akan terjadi bencana dan fitnah, dan di sana akan muncul tanduk (qarn) setan.”

Haditsnya secara lengkap adalah sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Hasan berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar berkata, Beliau berdoa: Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami. Ibnu ‘Umar berkata, Para sahabat berkata, Juga untuk negeri Najed kami. Beliau kembali berdoa: Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami. Para sahabat berkata lagi, Juga untuk negeri Najed kami. Ibnu ‘Umar berkata, Beliau lalu berdoa: Disanalah akan terjadi bencana dan fitnah, dan di sana akan muncul QARN (tanduk) setan. (HR Bukhari 979)

Jika dihubungkan antara hadits miqat penduduk Najd di Qarn dengan hadits tentang  akan munculnya fitnah tanduk (Qarn) setan di Najd, maka akan menjadi logis jika kita bertanya-tanya dalam hati ketika memikirkan ada misteri apa di balik ini semua?

1. Kenapa Nabi menetapkan Miqat haji penduduk NAJD Hijaaz di QARN?

2. Kenapa Nabi mnyebutnya daerah miqat itu dengan QARN?

3. Adakah kaitannya dengan hadits shahih yang menjelaskan bahwa NAJD tempat munculnya QARN (tanduk) setan?

4. Adakah hal itu suatu kebetulan? Atau ucapan Nabi itu memang ada isyarat tertentu tentang tempat munculnya Fitnah QARN (tanduk) setan di sana?  Wallahu a’lam….

Demikianlah, semoga bermanfaat dalam memberikan inspirasi bagi kita semua sehingga selalu berada dalam naungan hadayah Allah Swt, amin….

(Copas UmmatiPress)

Makna Sekufu

Kafaah (Sekufu) dalam pernikahan

      Kafaah atau sekufu adalah kesetaraan antara laki-laki atau perempuan dalam beberapa ketentuan dan perkara khusus. Syarat sekufu itu ada lima dan telah ditetapkan dan tersurat dalam suatu syair tunggal yaitu nasab, agama, profesi, atau pekerjaan, kemerdekaan, tidak ada cacat atau cela. Sedangkan kekayaan terdapat keraguan dalam penetapan sebagai syarat sekufu.

 

      Nasihat dari Ustadz Mar’iy Al-Hanbali bisa direnungkan untuk jaman ini, Sekufu itu ada 6, namun anak-anak jaman ini hanya mengenal sekufu itu dalam hal harta.

 

      Penjelasan tentang syarat sekufu :

  1. Nasab : tetap diperhitungkan dalam pernikahan. Non arab tidak sepadan dengan arab. Wanita Qura’isy tidak sepadan dengan non quraisy. Mengenai sesama quraisy beda pendapat, ada Ulama yang menyatakan sekufu ada yang menyatakan tidak sekufu. Ada yg menyatakan orang Quraisy yang bukan dari Bani Mutthalib atau Bani Hasyim tidak sepadan dengan orang Quraisy yang dari Bani Mutthalib atau Bani Hasyim. Sedangkan pernikahan Bani Mutthalib dengan Bani Hasyim adalah sekufu.
  2. Agama : agama dalam hal ini diperhitungkan, orang fasiq tidak sekufu dengan wanita yang afifah (menjaga kehormatannya)
  3. Profesi : tukan tenun tidak sepadan dengan tukan kain (atau pedagang kain), tukang bekam tidak sepadan dengan tukang jahit kulit
  4. Kemerdakaan : Kemerdekaan juga diperhitungkan karena haram hukumnya wanita merdeka menikah dengan seorang budak laki-laki, sebab akan menimbulkan cela atau aib bagi wanita apabila suaminya adalah seorang Budak atau hamba sahaya

 

Sedangkan dalam urusan harta atau kekayaan, para Ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat harta atau kekayaan tetap diperhitungkan dalam pernikahan. Oleh karena itu orang yang fakir/miskin tidak sepadan dengan wanita yang kaya. Namun sebagian dari Ulama lain mengatakan harta kekayaan tidak diperhitungkan dalam pernikahan. Sebab harta itu bisa ada dan bisa lenyap, datang dan pergi, dan orang yang menjaga kehormatannya tidak berbangga dengan harta kekayaan.

 

Dinukil dari Fiqih Nikah dalam Perspektif 4 Mazhab karaya Al-‘Allamah Sayyiduna Habib Syaikh bin Ahmad Al-Musawa dengan judul asli Muqodimattun Nikah.

Tentang Bid’ah

BID’AH ITU HANYA BATASAN DAN ANJURAN UNTUK KITA BERHATI-HATI DENGAN HAL YANG BARU DI ADAKAN DI MASA KITA NAMUN JIKA MASIH DALAM KORIDOR SYARI’AT DAN TIDAK MERUBAH ATURAN HUKUM SYARAT DAN RUKUNNYA IBADAH … JANGAN TAKUT KALO HANYA DI KATAKAN AHLI BID’AH ..

Begitu juga dengan amalan-amalan ibadah yang belum pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw. atau para sahabatnya, tetapi diamalkan oleh para ulama salaf (ulama terdahulu) atau ulama khalaf (ulama belakangan) misalnya mengadakan majlis maulidin Nabi saw., majlis tahlilan/ yasinan dan lain sebagainya (baca keterangannya pada bab Maulid Nabi saw.dan bab Ziarah kubur). Tidak lain para ulama yang mengamalkan ini mengambil dalil-dalil baik dari Kitabullah atau Sunnah Rasulullah saw. yang menganjurkan agar manusia selalu berbuat kebaikan atau dalil-dalil tentang pahala-pahala bacaan dan amalan ibadah lainnya. Berbuat kebaikan ini banyak macam dan caranya semuanya mustahab asalkan tidak tidak bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh syari’at. Apalagi didalam majlis-majlis (maulidin-Nabi, tahlilan/yasinan, Istighotsah) yang sering diteror oleh golongan tertentu, disitu sering didengungkan kalimat Tauhid, Tasbih, Takbir dan Sholawat kepada Rasulullah saw. yang semuanya itu dianjurkan oleh Allah SWT. dan Rasul-Nya. Semuanya ini mendekatkan / taqarrub kita kepada Allah SWT.!!

Mari kita rujuk ayat al-Qur’an :

وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا ‘

Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepadamu, maka ambillah dia dan apa saja yang kamu dilarang daripadanya, maka berhentilah (mengerjakannya). (QS. Al-Hasyr : 7).

Dalam ayat diatas jelas bahwa perintah untuk tidak mengerjakan sesuatu itu adalah apabila telah tegas dan jelas larangannya dari Rasulullah saw. !

Dalam ayat diatas ini tidak dikatakan : وَماَلَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا ‘Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakannya (oleh Rasulullah), maka berhentilah (mengerjakannya)’.

Juga dalam hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Bukhori :

فَاجْتَنِبُوْهُ اِذَا أمَرْتُكُمْ بِأمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْئٍ ‘

Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah dia !‘ Dalam hadits ini Rasulullah saw. tidak mengatakan : وَاِذَا لَمْ أفْعَلْ شَيْئًا فَاجْتَنِبُوْهُ ‘Dan apabila sesuatu itu tidak pernah aku kerjakan, maka jauhilah dia!’ Jadi pemahaman golongan yang melarang semua bentuk bid’ah dengan berdalil dua hadits yang telah kami kemukakan Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah… dan hadits Barangsiapa yang didalam agama… adalah tidak benar, karena adanya beberapa keterangan dari Rasulullah saw. Hanya orang-orang egois, fanatik dan mau menangnya sendiri sajalah yang mengingkari hal tersebut. Seperti yang telah kemukakan sebelum ini bahwa golongan pengingkar ini selalu menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah secara tekstual oleh karenanya sering mencela semua amalan yang tidak sesuai dengan paham mereka. Misalnya, mereka melarang semua bentuk bid’ah dengan berdalil hadits Rasulullah saw. berikut ini : كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةُ “Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’.

Juga hadits Nabi saw. : مَنْ أحْدَثَ فِي اَمْرِنَا هَذَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري و مسلم)

‘Barangsiapa yang didalam agama kami mengadakan sesuatu yang tidak dari agama ia tertolak’. Hadits-hadits tersebut oleh mereka dipandang sebagai pengkhususan hadits Kullu bid’atin dhalalah yang bersifat umum, karena terdapat penegasan dalam hadits tersebut, yang tidak dari agama ia tertolak, yakni dholalah/ sesat. Dengan adanya kata Kullu (setiap / semua) pada hadits diatas ini tersebut mereka menetapkan apa saja yang terjadi setelah zaman Rasul- Allah saw. serta sebelumnya tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw. adalah bi’dah dholalah. didalam hadits-hadits yang lain dimana beliau merestui banyak perkara yang merupakan prakarsa para sahabat sedangkan beliau saw. sendiri tidak pernah melakukan apalagi memerintahkan. Maka para ulama menarik kesimpulan bahwa bid’ah (prakarsa) yang dianggap sesat ialah yang mensyari’atkan sebagian dari agama yang tidak diizinkan Allah SWT.

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah, yang mensyariatkan untuk mereka, agama yang tidak diijinkan Allah?. Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah), tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih (QS Asy-Syura :21) serta prakarsa-prakarsa yang bertentangan dengan yang telah digariskan oleh syari’at Islam baik dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah saw., contohnya yang mudah ialah : Sengaja sholat tidak menghadap kearah kiblat, Shalat dimulai dengan salam dan diakhiri denga takbir ; Melakukan sholat dengan satu sujud saja; Melaku kan sholat Shubuh dengan sengaja sebanyak tiga raka’at dan lain sebagai- nya. Semuanya ini dilarang oleh agama karena bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh syari’at. Makna hadits Rasulullah saw. diatas yang mengatakan, mengada-adakan sesuatu itu…. adalah masalah pokok-pokok agama yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Itulah yang tidak boleh dirubah atau ditambah. Saya ambil perumpamaan lagi yang mudah saja, ada orang mengatakan bahwa sholat wajib itu setiap harinya dua kali, padahal agama menetapkan lima kali sehari. Atau orang yang sanggup tidak berhalangan karena sakit, musafir dan lain-lain berpuasa wajib pada bulan Ramadhan mengatakan bahwa kita tidak perlu puasa pada bulan tersebut tapi bisa diganti dengan puasa pada bulan apapun saja. Inilah yang dinamakan menambah dan mengada-adakan agama. Jadi bukan masalah-masalah nafilah, sunnah atau lainnya yang tidak termasuk pokok agama. Telitilah isi hadits Qudsi berikut ini yang diriwayatkan Bukhori dari Abu Hurairah : …… وَمَا تَقَرَّبَ اِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْئٍ أحَبَّ اِلَيَّ مِمَّا افْتَرَطْتُ عَلَيْهِ, وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ أِلَيَّ بِالنّـَوَافِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ فَاِذَا أحْبَبْتهُ كُنْتُ سَمْـعَهُ الَّذِي يَسمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ اَلَّذِي يُبْصِرُبِهِ, وَيَدَهُ اَلَّتِي يَبْـطِشُ بِهَا وَرِجْلـَهُ اَلَّتِي يَمْشِي بِهَا وَاِنْ سَألَنِي لاُعْطَيْنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَـاذَنِي لاُعِيْذَنَّهُ. (رواه البخاري) “…. HambaKu yang mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Ku sukai daripada yang telah Kuwajibkan kepadanya, dan selagi hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan-amalan atau sholat sunnah) sehingga Aku mencintainya, maka jika Aku telah mencintainya. Akulah yang menjadi pendengarannya dan dengan itu ia mendengar, Akulah yang menjadi penglihatannya dan dengan itu ia melihat, dan Aku yang menjadi tangannya dengan itu ia memukul (musuh), dan Aku juga menjadi kakinya dan dengan itu ia berjalan. Bila ia mohon kepadaKu itu pasti Kuberi dan bila ia mohon perlindungan kepadaKu ia pasti Ku lindungi”. Dalam hadits qudsi ini Allah SWT. mencintai orang-orang yang menambah amalan sunnah disamping amalan wajibnya. Mari kita rujuk ayat-ayat ilahi yang ada kata-kata Kullu yang mana kata ini tidak harus berarti semua/setiap, tapi bisa berarti khusus untuk beberapa hal saja. Firman Allah SWT dalam Al-Kahfi: 79, kisah Nabi Musa as. dengan Khidir (hamba Allah yang sholeh), sebagai berikut : أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا “Adapun perahu itu, maka dia adalah miliknya orang orang miskin yang bermata pencaharian dilautan dan aku bertujuan merusaknya karena dibelakang mereka terdapat seorang raja yang suka merampas semua perahu”. Mereka tidak memandang apakah hal yang baru itu membawa maslahat/kebaikan dan termasuk yang dikehendaki oleh agama atau tidak. Mereka juga tidak mau meneliti dan membaca contoh-contoh hadits diatas mengenai prakarsa para sahabat yang menambahkan bacaan-bacaan dalam sholat yang mana sebelum dan sesudahnya tidak pernah diperintahkan Rasulullah saw. Mereka juga tidak mau mengerti bahwa memperbanyak kebaikan adalah kebaikan. Jika ilmu agama sedangkal itu orang tidak perlu bersusah-payah memperoleh kebaikan. Ada lagi kaidah yang dipegang dan sering dipakai oleh golongan pengingkar dan pelontar tuduhan-tuduhan bid’ah mengenai suatu amalan, adalah kata-kata sebagai berikut : “Rasulullah saw. tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga para sahabatnya tidak ada satupun diantara mereka yang mengerja- kannya. Demikian pula para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in. Dan kalau sekiranya amalan itu baik, mengapa hal itu tidak dilakukan oleh Rasulullah, sahabat dan para tabi’in?” Atau ucapan mereka : “Kita kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti Nabi yakni mengikuti segala perbuatan Nabi. Semua yang tidak pernah beliau lakukan, kenapa justru kita yang melakukannya..? Bukankah kita harus menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi saw., para sahabat, ulama-ulama salaf..? Karena melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad saw. Silahkan Belajar Untuk hazanah Diri di sisi allah jangan Untuk mencari celah Untuk menghukumi orang lain ,,, Toh Kita semua juga masih sangatlah BODOH jika Untuk menghukumi orang lain dan jangan sekali-sekali melampui batas Hukum ketetapan Allah dan Rosulullah saw .

 

Kembali Pada Tuhan (Maulana Asy-Syaikh Jalaluddin Ar-Rumi Qs)

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Begitulah caranya!
Jika engkau hanya mampu merangkak,maka merangkaklah kepadaNya!Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; karena Tuhan, dengan rahmatNya akan tetap menerima mata wang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai
seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja. Begitulah caranya! Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
ayoklah datang, dan datanglah lagi! Kerana Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa
ataupun terpuruk ke dalam jurang,
ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.”

Kisah Ashabul Kahfi

KISAH ASHABUL KAHFI (Ana Madinatul ‘Ilm, wa ‘Aali Baabuha)

Assalammualaikum Ya Jama’atal Muslimina Walmuslimat..

Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi,
kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khidlir as. serta kisah Dzulqarnain.

Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. HHal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung kedalam gua lalu mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (Q.S. Al-Kahfi:10). Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Dikala Umar bin Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah, “Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi!”
“Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan,” sahut Khalifah Umar.
“Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?” Tanya pendeta-pendeta itu, memulai beberapa pertanyaannya.
“Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau induknya!
Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) disaat ia sedang berkicau!
Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan dikala ia sedang berkokok!
Apakah yang dikatakan oleh kuda disaat ia sedang meringkik?
Apakah yang dikatakan oleh katak diwaktu ia sedang bersuara?
Apakah yang dikatakan oleh keledai disaat ia sedang meringkik?
Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?”

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berpikir sejenak, kemudian berkata, “Bagi Umar, jika ia menjawab ‘tidak tahu’ atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!”

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata,
“Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!”

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu:
“Kalian tunggu sebentar!” Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib.
Setelah bertemu, Salman berkata: “Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!” Sayyidina Ali kaw. bingung, lalu bertanya: “Mengapa wahai Salman?”
Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Sayyidina Ali kaw. segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasulullah SAW. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata, “Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!”

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib berkata, “Silahkan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasulullah SAW sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!”

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!”

“Ya baik!” jawab mereka.

“Sekarang tanyakanlah satu demi satu,” kata Ali bin Abi Thalib. Mereka mulai bertanya, “Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?”

“Induk kunci itu,” jawab Ali bin Abi Thalib, “ialah syirik kepada Allah.
Sebab semua hamba Allah, baik laki-laki ataupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai kehadirat Allah!”

Para pendeta Yahudi bertanya lagi, “Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?”
Ali bin Abi Thalib menjawab, “Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!”
Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata,
“Orang itu benar juga!”

Mereka bertanya lebih lanjut, “Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!” “Kuburan itu ialah ikan Nus (hut) yang menelan Nabi Yunus ibn Matta,” jawab Ali bin Abi Thalib. “Nabi Yunus AS dibawa keliling ketujuh samudera!”

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi, “Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!”
Ali bin Abi Thalib menjawab, “Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman AS putera Nabi Daud AS. Semut itu berkata kepada kaumnya, ‘Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!”

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya, “Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan diatas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun diantara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!”
Ali bin Abi Thalib menjawab, “Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular).”

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Sayyidina Ali kaw. lalu mengatakan, “Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!”

Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda.” “Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan,” sahut Sayyidina Ali kaw..
“Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?” Tanya pendeta tadi.

Ali bin Ali Thalib menjawab, “Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua.
Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya.
Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu.” Pendeta Yahudi itu menyahut,
“Aku sudah banyak mendengar tentang Qur’an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!”

Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut kedepan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata, “Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasulullah SAW kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, disebuah kota bernama Efesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Efesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus
(Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik.

Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Efesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana.”

Baru sampai disitu, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya, “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!”

Ali bin Abi Thalib menerangkan, “Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmer. Panjangnya satu farsakh (+/- 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Disebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi.
Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Disebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala.”

Sampai disitu pendeta Yahudi tadi berdiri lagi sambil berkata, “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?”
“Hai saudara Yahudi,” kata Sayyidina Ali kaw. menerangkan, “Mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri.”

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi, lalu berkata, “Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!” Menanggapi hal itu, Sayyidina Ali kaw. menjawab, “Kekasihku Muhammad Rasulullah SAW menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri disebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha (Tamaleekh), Miksalmina (Maximilian), dan Mikhaslimina (Michelminus). Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Marthali (Martelius), Qostias (Casitius) dan Sadima (Sidemius). Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan. Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung didalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya. Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung didalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai “tuhan” dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah SWT.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiyakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah SWT. Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu kedalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana.

Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan –seorang cerdas yang bernama Tamlikha– memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh pikiran. Ia berpikir, lalu berkata di dalam hati, “Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan. Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya, ‘Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?’ ‘Teman-teman,’ sahut Tamlikha, ‘hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur.’ Teman-temannya mengejar, ‘Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?’ ‘Sudah lama aku memikirkan soal langit,’ ujar Tamlikha menjelaskan. ‘Aku lalu bertanya pada diriku sendiri,’siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?’ Kemudian kupikirkan juga bumi ini, ‘Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?’

Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri, ‘Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius’…” Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata, ‘Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!’ ‘Saudara-saudara,’ jawab Tamlikha, ‘baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja Pencipta Langit dan Bumi!’

‘Kami setuju dengan pendapatmu,’ sahut teman-temannya. Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya. Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya, “Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar. Mereka turun dari kudanya masing-masing.” Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya,’Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?’ ‘Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,’ sahut penggembala itu. ‘Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!’ ‘Ah…, susahnya orang ini,’ jawab mereka. ‘Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?’ ‘Ya,’ jawab penggembala itu. Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata, ‘Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian.’ Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya.”

Waktu cerita Sayyidina Ali kaw. sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata, “Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?” “Hai saudara Yahudi,” kata Ali bin Abi Thalib, “Anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya, kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu. Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali, ‘Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah SWT.’ Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua.”

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata, “Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?” Sayyidina Ali kaw. menjelaskan, “Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau disebut juga dengan nama Khiram!” Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya, “Secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga duduk sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah SWT memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah SWT mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur. Kepada para pengikutnya ia berkata, ‘Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!’ Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya, “Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu.”

Dalam gua tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 300 + 9 tahun. Setelah masa yang amat panjang itu lewat, Allah SWT mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya, ‘Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!’ Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya.

Allah SWT membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya, ‘Siapakah diantara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi.’ Tamlikha kemudian berkata, ‘Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!’

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan, TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN ISA ADALAH RUH ALLAH. Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri, ‘Kusangka aku ini masih tidur!’ Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal.

Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti, ‘Hai tukang roti,
apakah nama kota kalian ini?’ ‘Efesus,’ sahut penjual roti itu. ‘Siapakah nama raja kalian?’ tanya Tamlikha lagi. ‘Abdurrahman,’ jawab penjual roti. ‘Kalau yang kau katakan itu benar,’ kata Tamlikha, ‘urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!’ Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.”

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!” Sayyidina Ali kaw. menerangkan, “Uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!” Sayyidina Ali kaw. kemudian melanjutkan ceritanya,

Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha, ‘Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!’ ‘Aku tidak menemukan harta karun,’ sangkal Tamlikha. ‘Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!’ Penjual roti itu marah. Lalu berkata, ‘Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?’

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berpikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha, ‘Bagaimana cerita tentang orang ini?’ ‘Dia menemukan harta karun,’ jawab orang-orang yang membawanya. Kepada Tamlikha, Raja berkata, ‘Engkau tak perlu takut! Nabi Isa AS memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat.’ Tamlikha menjawab, ‘Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!’ Raja bertanya sambil keheran-heranan, ‘Engkau penduduk kota ini?’ ‘Ya. Benar,’ sahut Tamlikha. ‘Adakah orang yang kau kenal?’ tanya raja lagi. ‘Ya, ada,’ jawab Tamlikha. ‘Coba sebutkan siapa namanya,’ perintah raja. Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata. ‘Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?’ ‘Ya, tuanku,’ jawab Tamlikha. ‘Utuslah seorang menyertai aku!’ Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi.

Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan, ‘Inilah rumahku!’ Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang, ‘Kalian ada perlu apa?’ Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut, ‘Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!’ Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya, ‘Siapa namamu?’ ‘AKU ADALAH TAMLIKHA ANAK FILISTIN (Palestina)!’ Orang tua itu lalu berkata, ‘Coba ulangi lagi!’ Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap. ‘Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang diantara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka.” Kemudian diteruskannya dengan suara haru, ‘Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi.

Nabi kita, Isa AS, dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!’ Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian dilaporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya, ‘Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?’ Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua. Pada masa itu kota Efesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua,” demikian Sayyidina Ali kaw. melanjutkan ceritanya.

“Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka, ‘Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!’ Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua.

Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata, ‘Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!’ Tamlikha menukas, ‘Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?’ ‘Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,’ jawab mereka. ‘Tidak!’ sangkal Tamlikha. ‘Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!’ Teman-teman Tamlikha menyahut, ‘Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?’ ‘Lantas apa yang kalian inginkan?’ Tamlikha balik bertanya. ‘Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,’ jawab mereka. Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa, ‘Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!’ Allah SWT mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah SWT melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua.

Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah SWT. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka. Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata, ‘Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu.’ Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula, ‘Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu.’ Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam.” Sampai di situ Sayyidina Ali kaw. berhenti menceritakan kisah para penghuni gua.

Kemudian Beliau berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, “Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?” Pendeta Yahudi itu menjawab, “Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan umat ini!”

Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi).

Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha’il al Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Husainiy Al Fairuz ‘Aabad, hal ini menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Sayyidina Ali kaw. bin Abi Thalib dari Rasulullah ASWS. Wallahu ‘alam.