Fatwa Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs, Kedudukan Kedua Orang Tua Rasulullah

Bagaimana Kedudukan Kedua Orang Tua Rasulullah di SisiNYA ? (Resume Fatwa Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs, Mufti Agung Mesir)

November 7, 2013 at 9:40am
 

PublicFriendsOnly MeCustomClose FriendsSMA NEGERI 4 SIDOARJOSee all lists…Familycv.bismarayaUniversitas Airlangga SurabayaRusma WidyaJangan dilihatKhodimul Ummah wal UlamaSMP Negeri 1 SidoarjoAirlangga UniversityUniversitas Alam Semesta RayaSidoarjo, Jawa Timur, Indonesia AreaUniversitas Menyan IndonesiaAcquaintancesGo Back

Bagaimana Kedudukan Kedua Orang Tua Rasulullah SAW 

*Resume tulisan Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs (semoga Allah menyucikan ruhani beliau), Mufti Agung Mesir Aswaja dalam kitabnya Manhajuhum . . . Ahamm Qadhayahum yang saya ambil dari terjemahannya

 

Oleh : Ahmad Al-Muznib

 

Resume ini ditulis dalam rangka untuk meningkatkan cinta kepada Rasulullah SAW, mengetahui dan mengenal keluarga beliau khususnya keduaorang tua beliau karena akhir-akhir ini terdapat Isu-isu menyatakan ada sebagian kecil kelompok minoritas / kelompok puritan menyebutkan kedudukkankedua orang tua Rasulullah adalah di neraka jahannam karena dianggap belum mengucapkan 2 kalimah syahadat. Semoga Allah memaafkan yang beranggapan demikian.

 

Maka butuh ilmu untuk memahami bagaimana kedudukkan kedua orang tua Rasulullah di sisiNYA melalui AlQur’an dan Hadits. Tentunya bagi kaumyang awam seperti yang menulis resume ini memahami AlQur’an dan Hadits secaralangsung tentu tidak mampu, karena Allah dalam AlQur’an menyebutkan kewajiban bertanya kepada Ahlu Dzikir. Ahlu Dzikir adalah para Alim Ulama. Maka untuk menjawab Isu kedudukkan kedua orang tua Rasulullah, kami mengambil fatwa Mufti Agung Mesir ProfessorDR Syaikh Ali Jum’ah Qs yang menjawab isu kedua orang tua Nabi SAW ada di neraka.

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs mengatakan perasaan cinta yg berlawanan dengan hasrat mengatakan kedua orang tua Nabi berada di nerakaadalah jelas menyakiti baginda Rasulullah SAW. Kemudian Professor DR Syaikh AliJum’ah menjelaskan dalil-dalil larangan menyakiti Nabi

 

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُلَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًامُهِينًا

 

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginyasiksa yang menghinakan. QS (Al-Azhab 57)

 

Allah pun melarang menyakiti Nabi secara terang-terangan danmeniru kaum yahudi yang menghina Nabi

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَكُونُواكَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ اللَّهُ مِمَّا قَالُوا ۚ وَكَانَ عِنْدَاللَّهِ وَجِيهًا

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadiseperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya darituduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyaikedudukan terhormat di sisi Allah. QS (AlAzhab 69)

 

Menurut Professor Syaikh DR Ali Jum’ah Qs :  meskipun orang tua Nabi dan nenek moyang Rasulullah SAW terlihat berbuat musyrik secara sepintas, maka mereka tidak bisa digolongkan sebagai ahlu musyrikin sebab dijaman orang tua Nabi SAW tidak ada Rasul yang diutus dijamanitu.

 

Professor Syaikh DR Ali Jum’ah Qs menjelaskan dalil-dalilbahwa kedua orang tua Rasulullah SAW bukan ahli musyrik.

 

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَرَسُولًا

dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorangrasul (QS Al-Isra 15)

 

ذَٰلِكَ أَنْ لَمْ يَكُنْ رَبُّكَ مُهْلِكَالْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklahmembinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah.(Qs Al-An’am 131)

 

 

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّايَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُعَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembiradan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantahAllah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa 165)

 

Hujjah Allah tidak memberikan azab sebelum adanya Rasul yang diutus adalah berlaku dijaman kedua orang tua Rasulullah SAW. Tanpa utusan Rasul, Allah takkan menyiksa manusia. Maka ayat-ayat diatas sudah menguatkanbahwa kedua orang tua Rasulullah SAW adalah tidak diazab oleh Allah.

 

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ حَتَّىٰيَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّامُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

 

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecualipenduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (QS AlQashah 59)

 

Orang tua Nabi Muhammad SAW tidak diazab bukan dikarenakan orang tua Nabi Muhammad  SAW melainkankarena kedua orang tua Nabi berada dalam jaman jeda tidak diutusnya seorang Rasul satupun. Al-Imam Asy-Syathibi mengatakan dalam AlMuwafaqat juz 3 halaman377 ketentuan Allah terhadap hambaNYA adalah tidak menyiksa atau menghukumsebelum diutusnya Rasul, Jika aturan telah tegak dan diasosiasikan, maka orangbebas memilih, beriman atau kafir. Masing-masing akan memperoleh balasan yangsesuai. AlQasimi ketika menafsirkan ayat dan Kami tidak akan mengazabsebelum Kami mengutus seorang rasul (QS Al-Isra 15)

 

Yang benar bagi kami, yang lurus bagi kami bahkan mustahil dalamsunnah kami yang terbangun atas dasar kebijaksanaan tertinggi, untuk menyiksa suatu kaum, hingga kami mengutus pada mereka seorang Rasul yang menuntun mereka menujukebenaran dan mencegah mereka dari kesesatan, demi menegakkan hujjah dan mengutus kemungkinan diajukannya alasan (untuk menghindari dari sanksi)

 

Kemudian bagaimana dengan dalil dalil khusus. Professor DRSyaikh Ali Jum’ah Qs memberikan dalil-dalil khusus :

 

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antaraorang-orang yang sujud.

(QS AlSyuara 219)

 

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah QS menyatakan dalam tafsir Al-Qurthubijuz 13 halaman 144 dan Ath-Thabrani juz 7 halaman 287 menurut Ibnu Abbas ramaksud dari firman “melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orangyang sujud” adalah perpindahan beliau terus menerus dari sulbi ke sulbi mulaiNabi Adam As, Nabi Ibrahim As dan hingga terakhir menjadi beliau

 

Watsilah bin Asyqo berkata, aku mendengar Rasulullahbersabda : “Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail danAllah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah memilih Bani Hasyim dariQuraisy dan Allah memilih aku dari keluarga Bani Hasyim” (HR. Muslim dan At-Tirmidhi)

 

“SesungguhnyaAllah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan sebaik-baik golonganmereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalumenjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluargaIalu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalahsebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka”.(Diriwayatkan oleh at-Turmudzy).

 

Demikianlah Rasulullah SAW menyifati nenek moyangnya lagisuci dan dari kalangan orang baik. 2 sifat yang berlawanan seperti yangdituduhkan kaum puritan, kaum minoritas dalam Islam. Musyrik seperti yangdinyatakan pada AlQur’an adalah

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَاالْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yangmusyrik itu najis (Qs At-Taubah 18)

 

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs kemudian menjelaskankelompok minoritas mempermasalahkan 2 hadits yang nilainya ahad yg kemudiakelompok minoritas ini berlawanan pendapatnya dengan jumhur Ulama dalam halkedudukkan kedua orang tua Rasulullah SAW. Professor DR Syaikh Ali Jum’ah QSjuga menjelaskan lafal hadist ahad itu bertentangan dengan ayat-ayat Qur’anyang tegas.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَاسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِيوَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَفَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Dari Abu Hurairahradliyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam pernahberziarah ke kubur ibunya kemudian beliau menangis, sehingga menangislah paraSahabat lain di sekeliling beliau. Kemudian beliau bersabda: Aku meminta ijinkepada Tuhanku untuk memohon ampunan untuknya (ibunda Nabi) tapi tidakdiijinkan. Kemudian aku meminta ijin (kepada Allah) untuk berziarah kekuburnya, diijinkan. Maka berziarahlah ke kubur, karena hal itu mengingatkankepada kematian (H.R Muslim no1622)


عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِيالنَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ

” dari Anas bin Malik bahwasanya seorang laki-laki berkata :Wahai Rasulullah di mana ayahku ? Nabi bersabda : ‘ di neraka’ . Ketika orangtersebut berpaling, Nabi memanggilnya lagi dan bersabda : ‘Sesungguhnya ayahkudan ayahmu di an-naar (neraka) (H.R Muslim).

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs kemudian menjelaskan keduahadits ini. Hadits pertama tidak menyatakan dengan tegas ibunda Rasulullah SAWadalah didalam neraka, sedangkan tidak diberikan ijin untuk memintakan ampunanjuga tidak menunjukkan ibunda Nabi Muhammad SAW adalah musyrik. Jika tidak makabeliau juga tidak akan mendapatkan ijin dari Allah untuk menziarahi kuburnyakarena berziarah ke makam orang-orang musyrik dan berbakti pada mereka adalahdilarang.

 

Kemudian hadist kedua bisa diartikan bahwa yang dimaksudRasulullah SAW adalah pamannya, Abu Thalib yang meninggal setelah Muhammad binAbdullah diutus menjadi Rasulullah SAW dan tidak pernah menyatakankeislamannya. Orang arab punya kebiasaan menyebut paman dengan ayah.

 

Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs menjelaskan ketika kawanbicara tidak mau menerima takwil ini dan tetap pada pendirian makna lahir tekshadits kedua, karena makna lahir hadirs pertama tidak mendukung, Professor DRSyaikh Ali Jum’ah Qs mengatakan kedua hadits itu menunjukkan kedua orang tuaRasullah SAW tidak selamat dan Professor DR Syaikh Ali Jum’ah Qs dengan tegasmenolaknya karena bertentangan dengan ayat-ayat secara pasti dan jelasmenunjukkan sebaliknya. Inilah sikap para imam dan ulama dari masa ke masa. Al-HafidzAlBaghdadi Ra pernah menyebutkan kaidah ini dengan mengatakan “ Orangterpercaya yang meriwayatkan sebuah sanad bersambung bisa ditolak karenabeberapa hal, bertentangan dengan Al-Qur’an atau hadist mutawatir, sehinggadiketahui bahwa hadits yang tidak memiliki dasar atau mansukh.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s