Bab Cium Tangan

SAHABAT ZAID BIN TSABIT DAN SAYIDINA ABDULLAH BIN ABBAS

 

 

Saudaraku..

Dan jika kita menyebut nama keduanya, maka kita teringat ungkapan Abu Hurairah ra, saat Zaid bin Tsabit wafat, “Telah wafat samudera ilmu dari umat ini, mudah-mudahan Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai pengganti (penerus)-nya.”

 

Dan saat kita mengenang keduanya, maka kita dapat belajar bagaimana kita menghormati dan menghargai orang-orang yang memiliki kelebihan dan keutamaan dalam agama ini.

 

Amar bin Abu Amar menuturkan, bahwa suatu hari sang “samudera ilmu”, Abdullah bin Abbas menghampiri Zaid bin Tsabit kala hendak mengendarai untanya. Abdullah segera meraih kendalinya kemudian menuntun unta tersebut.

Zaid menahannya seraya berucap, “Lepaskanlah, wahai putera paman Rasulullah.”

Ibnu Abbas berkata, “Beginilah kami diajari (Nabi kami) untuk menghargai guru-guru dan ulama-ulama kami.”

Zaid lalu berkata, “Ulurkanlah tanganmu.”

Begitu Ibnu Abbas mengulurkan tangannya, Zaid memegang tangannya dan langsung menciumnya seraya berkata, “Beginilah kami diarahkan untuk memuliakan ahlul bait Rasul kami.”

 

Menuntun kendali unta yang diperbuat oleh Ibnu Abbas dan cium tangan yang dilakukan oleh Zaid bin Tsabit hanya merupakan contoh dari sikap saling menghormati, menghargai dan memuliakan orang yang berilmu pengetahuan dan tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat.

 

Cium tangan untuk menghormati, menghargai dan memuliakan ulama dan ahli ilmu, berdasarkan beberapa atsar telah dilakukan oleh sahabat dan tabi’in.

 

Abdurahman bin Razin rahimahullah pernah mencium tangan salah seorang sahabat; Salamah bin Akwa’ ra,Tsabit Al Bunani juga pernah mencium tangan Anas bin Malik ra,Sedangkan Abu Malik Al Asyja’i pernah mencium tangan Abdullah bin Abu Aufa ra.

 

Tapi para sahabat tidak pernah menyodorkan tangannya untuk dicium oleh sahabat lain atau generasi setelahnya yakni para tabi’in.

Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahar di tanya tentang hukum mencium tangan ahlul bait Nabi Muhammad saw., beliau berkata : “Mencium tangan ahlul bait adalah termasuk usaha untuk mendekatkan diri kepada Al-Habib Al-A’dhom, Rasulullaah saww.”, Allah Ta’ala mewahyukan :

قل لا أسالكم عليه أجرا إلا المودة فى القربى.

 

Qul laa as’alukum ‘alaihi ajron illa al-mawaddata fil-qurbaa. “Katakanlah, Aku tidak meminta kepada kalian sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluarga(ku).”. (Asy-Syura, 42 : 23).

 

Sayyidinaa Abdullah bin Abbas ra. adalah salah seorang ahlul bait. Ketika Sayyidinaa Zaid bin Tsabit ra. selesai menyalatkan jenazah, seseorang mengambil kuda beliau. Sayyidinaa Abdullah bin Abbas ra. mengambil alih dari orang itu, lalu memegang kendali kuda itu dan menuntunnya untuk diserahkan kepada pemiliknya. Sayyidinaa Zaid bin Tsabit ra. berkata kepada beliau, “Wahai, sepupu Rasulullaah saww., mengapa engkau berbuat demikian?” Beliau menjawab, “Beginilah kami diperintah untuk menghormati para ulama kami.” Sayyidinaa Zaid bin Tsabit ra. segera mencium tangan beliau dan berkata, “Beginilah kami diperintah untuk memuliakan ahlul bait Rosulillah saw”.

(Faidhul Qadir juz 3 hal.253)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s